Cover-8

Kampus hari ini tak ubahnya sebuah perusahaan. Sebagian besar kegiatannya tak jauh-jauh dari tujuan memperoleh keuntungan, baik secara ekonomi maupun citra, alih-alih mengerjakan kewajiban utamanya sebagai perguruan tinggi. Nilai-nilai pendidikan yang seharusnya dimiliki UB (Universitas Brawijaya) kini bergeser pada hasrat ekonomis yang menuhankan laba. Tak heran apabila kemarin ada gelombang aksi sebab UKT tinggi. Tak heran juga bila kemudian di UB unit-unit bisnis dibangun tinggi, sedangkan bangku-bangku di kelas banyak berdecit karena bautnya hilang.

Semua itu mulai tumbuh pesat sejak ditetapkannya UB menjadi salah satu kampus dengan status Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) 2021 lalu. Darinya, satu wadah besar lahir—Brawijaya Multi Usaha (BMU)—yang kemudian beberapa unit bisnis lahir dengan dalih manifestasi kemandirian perguruan tinggi. Satu hal yang mungkin terdengar hebat: bahwa kampus bisa menjadi miniatur negara yang mengatur keuangannya sendiri. Namun coba lihat lebih teliti. Hari ini, PTN-BH diamanatkan untuk mengelola bidang akademik dan nonakademik secara otonom. Selain menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi, kampus harus menjalankan roda ekonominya sendiri dengan unit-unit bisnis itu. Fokus kampus akan fungsi pengajaran, penelitian, dan pemberdayaan masyarakat harus terbagi dengan pengelolaan keuangan (baca: nyari duit) yang demikian sulit—in this economy, ya. Melihat hal itu, frasa apa lagi yang pantas mendeskripsikannya selain “bentuk lepas tangan negara”?

Memang, hari ini, tiang-tiang neoliberal sudah hadir di mana-mana. Kampus, sebagai tempat produksi ilmu pengetahuan, diharuskan oleh negara untuk memimpin persaingan-persaingan itu agar semuanya terlegitimasi dengan bias atas nama ilmu. Tapi ini sungguh melenceng! Dalih agar bisa menghasilkan pendidikan yang lebih bermutu itu hanya omong kosong. Yang ada adalah hasrat-hasrat untuk menguasai ekonomi lebih banyak dan lebih banyak lagi. Hasrat-hasrat itu kemudian “menimpa” fungsi-fungsi utama dari perguruan tinggi dan menguburnya sejengkal lebih dalam dari tanah. Pertanyaannya kemudian, apakah UB, sebagai lembaga pendidikan tinggi, sadar terkait hal ini?

Namun apa boleh buat soal kesadaran itu. Hampir lima tahun sudah Peraturan Pemerintah yang menjadikan UB sebagai PTN-BH itu rilis. Bangunan-bangunan amanat PTN-BH sudah menancapkan tiangnya di sudut-sudut kampus. Kuasa kompetitif neoliberal telah memberi akar yang kokoh untuk selalu bersaing dan bersaing tanpa henti. Rasanya akan bosan bila terus-menerus membahas hal itu secara struktural karena bangunannya begitu solid dan sulit roboh. Sebaliknya, merekam lanskap-lanskap samar dari kegagalan PTN-BH barangkali bisa membuat pasaknya tergerus perlahan kemudian runtuh. Dan hal itulah yang memang akan kami laporkan dalam buletin ini.

Meski demikian, pada awalnya, tema buletin ini sebenarnya ingin membahas permasalahan ini secara struktural. Tentu dalam kerangka itu, keterangan dari jajaran Direktur BMU maupun Transmart sungguh-sungguh diperlukan. Sayangnya hingga buletin ini terbit, keduanya tidak segera menanggapi surat yang kami ajukan untuk wawancara, entah apa alasannya—tidak ada kepentingan, mungkin. Maka untuk menyiasati itu, kami banyak merekam suara-suara yang jarang terlihat di jagat media. Barangkali berkat itu, penjelasan dari pimpinan bisa hadir untuk memberikan kelengkapan informasi. 

Dalam salah satu produk, kami memperlihatkan bahwa perluasan UB ke ranah-ranah bisnis seperti Transmart tidak selalu memberi keuntungan seperti yang diharapkan. Bahkan setelah alokasi dana digelontorkan sedemikian banyak untuk akuisisinya. Ada juga keluhan dari mahasiswa terkait beratnya menjalankan tugas Management Entrepreneur Days yang bertempat di Transmart—tugas itu sungguh banyak merogoh uang mahasiswa. Ini sangat jauh dari memperoleh keuntungan, kami pikir.

Di sisi lain, kami juga melakukan reportase terkait bagaimana unit-unit bisnis UB beroperasi dengan tidak maksimal. Ini merekam bagaimana BMU secara operasional tidak begitu memberi kenyamanan pada konsumennya. Silakan membacanya dalam produk yang bertema Rusunawa UB. Selain itu, kami juga merekam suara-suara yang seolah tak tampak dari besarnya kuasa neoliberal ini. Terima kasih bagi para narasumber yang telah menyuarakan keresahan itu. Berkat suara kalian, kami bisa merekam bagaimana secara riil PTN-BH ini beraksi.  

Pada akhirnya, sejauh terkaan kami saat ini, produk-produk tersebut hanya akan berakhir menjadi arsip yang entah nanti akan dikumpulkan oleh siapa. Barangkali beberapa tahun atau puluhan tahun lagi, saat ekosistem neoliberal ini menemukan kejenuhannya, arsip-arsip ini akan berguna sebagai rekaman UB di masa kini. Bahwa sejak hari ini, kampus telah menuhankan sistem neoliberal itu untuk selalu mencari untung dan untung. Sepertinya dengan semua kejadian itu, mengutip Efek Rumah Kaca dengan sedikit gubahan cocok untuk menggambarkan semua ini. 

Tiada Tuhan selain PTN-BH
Kepada laba menghamba setia
Merawat Tridharma dan seluruh fungsinya adalah sampingan~~

Silakan baca buletin Ketawanggede Edisi I Tahun 2025 melalui tautan berikut:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *