Pernahkah setidaknya satu kali–kamu mengunjungi pusat perbelanjaan merah, Transmart, yang mungkin cukup kontras dengan hiruk pikuk tempat-tempat yang ada di sebelahnya. Kesunyian seakan mengukung lantai berpualam putih itu. Cahaya lampu di atasnya langsung saja menerangi kesunyian itu tanpo aling-aling keramaian manusia. Tiap-tiap sisi lantainya juga kosong, yang kemudian tak ubahnya menjadi lorong nestapa tak berkesudahan. 

Mungkin tempat ini hanya salah satu dari lain-lain yang pergi, entah hanya untuk beberapa hari atau—mungkin tanpa batas akhir. Tidak ada yang tahu. Pun, siapa pula yang akan peduli. Yang berlalu akan memudar bersama waktu. 

Salah satu sudut kecil yang mungkin terlihat lebih hidup daripada yang lain. Kamu akan menemukan sekumpulan kecil manusia berseragam putih abu, atau seorang mahasiswa yang memutuskan duduk karena suka kesunyian, atau yang lain—para orang tua yang memutuskan bercengkrama tempat duduk luar ruangan. Masing-masing mereka barangkali ingin menemukan ketenangannya di ruang yang hampir kosong melompong itu.

Lantai selanjutnya menawarkan hening yang lain. Kali ini, ia diisi oleh barang-barang yang tak mungkin punya bahasa yang manusia tak bisa pahami. Menjerit dalam sekat masing-masing, menunggu untuk dibawa pergi sebelum masa hidup mereka habis. Saat melihatnya, barangkali kita akan teringat pada film Kane Parsons yang berjudul Backrooms itu.

Gelombang massa setidaknya pernah datang ke sini, ketika corak-corak masih terlihat begitu terangnya diterpa sorot lampu yang mempersilakan manusia hadir. Namun, kiranya, gema suara mereka telah beterbangan menjadi debu-debu yang membuat bulu kuduk berdiri.

Tak ada suara manusia lagi, kecuali decit suara eskalator yang seakan hendak membawa langkah menuju dunia lain. Dan barangkali spanduk merah menjadi kunci; mengapa tak ada aktivitas makhluk bernyawa di sini. Teringat lagi kemudian, kemana rencana akuisisi yang digaungkan beberapa bulan sebelumnya?

Lalu ketika langkah menuju wahana masa kecil, sepertinya itu lebih cocok untuk disebut wahana menyeramkan yang menenggelamkan kenangan masa kecil. Mungkin yang menjadi pertanyaan di kemudian hari; untuk apa semua tawa-tawa itu diusir pergi? Ketika yang terlihat saat ini hanya tempat mati berhawa mistis.

Fotografer: Elvaretta Rahma Devina
Penulis: Elvaretta Rahma Devina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *