SUDUT FAKTA DAN PUISI LAINNYA

Sudut Fakta
premis itu terbelah dua,
menafsirkan setiap potong kata,
menjilati fakta dengan memanipulasi kata.
seolah mata tak bisa melihat data.
kebodohan muncul,
mengubah sudut mata agar tak melirik data,
menjadikan semua yang tak benar adalah fakta.
kelicikan lahir,
membentuk setiap kata,
melatih setiap bahasa,
untuk kelak menjadi penguasa.
Sajak Mati
mati menggalakkan tawa,
sekencang-kencangnya pohon melorotkan celana.
tanah mengharapkan iba,
agar mati tak datang,
padahal hidup tak tenang.
mati terbahak-bahak,
melihat tanah mengencangkan sabuk pengaman.
memohon-mohon pada tuhan,
agar mati tak datang,
untuk menikmati hidup tak tenang.
Sang Pahlawan
ketika gelombang itu datang,
ku berdiri
di antara barisan,
menengadahkan doa kepada tuhan,
berharap bukan aku yang ditelan,
tuan itu kembali datang:
lagi-lagi bukan ia sang pahlawan.
ia tergeletak.
bersimbah darah.
untuk yang kesekiankalinya.
ada tuan yang terlihat pantang,
namun khianat di belakang.
memutus setiap harapan.
sekali lagi, kutanya pada kekosongan,
“masih adakah hati yang menentang terhadap bentuk penindasan?”
Penulis: Sultan Langitan (kontribusi pembaca)
