KUPU-KUPU ITU TERBANG TINGGI DAN AKU BEBAS DI SINI

“Lovely-eyed. Death touched. Witch.”
– Odysseus Elytes, the Dream.
*****
Jeritan tertahan memenuhi kamar mandi yang berukuran kurang lebih 1,5 x 1,5 meter itu. Darah mulai menghiasi lantai kamar mandi dengan leluasa, seolah tidak peduli akan kesengsaraan manusia yang sedang berjuang diatasnya. Sang wanita menahan napas, dengan kain diantara mulutnya, agar tidak ada yang mampu mendengar jerit kesakitan itu lebih lama, dia mengejan lagi. Bulir-bulir keringat mengalir, antara ketakutan dan mengutuk agar sang anak manusia cepat-cepat keluar dari sarang di tubuh fana, untuk menghadapi realita dunia.
Tangan itu menggenggam erat-erat handuk yang dia gunakan sebagai sandaran, sebab tidak ada satupun manusia yang sudi bersama, atau sekedar menyaksikannya menderita. Dalam hati ia berdoa, bahwa ketakutannya tidak akan nyata, berdoa pada Tuhan yang selama ini dia anggap yang kedua. Atau barangkali memang Tuhan sudah tidak sudi mendengarkan doanya karena dia sudah terlalu berdosa?
Oh Lord … please help me, and let this Adam’s child be born with your blessing…
Dia menahan jeritan saat sang mahluk kecil akhirnya setuju untuk keluar. Napasnya terengah-engah saat dia menunggu sebuah pertanda, bahwa sang bayi masihlah ada. Tapi detik demi detik berlalu, tidak ada setan yang berbisik di telinga sang cucu Adam, dan direspon dengan tangis ketakutan. Nemesia membeku, seolah waktu memang sengaja berhenti untuk sekedar mengejek takdir yang berpihak pada diri itu. Mata itu perlahan menatap ke bawah, ke bayi yang terdiam mati, lantas perlahan kedua tangan dengan gemetar terulur untuk memegang mahkluk yang tidak sempat memberinya gelar kehormatan ibu.
Ditimangnya bayi mati itu dengan kelembutan duniawi, sebab sang anak manusia tidak lagi memilih menimbang dosa sendiri. Sementara sang wanita, yang bergelar calon ibu tidak lebih dari lima bulan itu tersenyum pada sang bayi, bersenandung kecil dengan campuran nada tawa nan pedih, seolah tidak peduli darah yang mengalir di antara kaki. Dia terduduk begitu lama, setelah melahirkan paksa sang anak yang dinantinya. Rasa sakit seolah mengabur sebab semua sudah terasa seperti abu-abu. Bercampuran antara pedih dan kutukan pada Tuhan akan mengapa takdir berbelok tajam ketika sudah menerima.
Tangisan tertahan tidak dia luncurkan dari tenggorokan, sebab dia tidak ingin memancing keributan. Ditimangnya dengan lembut bayi itu, diciumnya tubuh kecil nan dingin yang diselimuti dengan warna merah, bukannya selimut lembut nan hangat. Air mata tidak berhenti mengalir, melantunkan doa pada Tuhannya, mengapa dia membuat makhluk kecil itu menanggung dosanya alih-alih dirinya yang sudah muak dengan dunia. Kemudian mata itu menengadah ke atas, mencari Tuhan yang tidak berupa. Mungkin Dia tidak akan memberinya keadilan, maka biarlah diri ini mencari sendiri.
“Tuhan … izinkan aku membalas dendam atas nama putra yang tidak memiliki keadilan …” Nemesia berbisik, bersumpah dengan saksi darah yang mengalir diantara kaki, seolah sudah tersegel rapi oleh malaikat yang menyampaikannya pada sang Pencipta.
****
Suara musik menginvasi telinga siapa saja yang berani menapakkan diri di Angelic Club, dipadukan dengan lampu disko warna-warni dan para manusia yang sibuk bergoyang kian-kemari. Tempat yang pas bagi siapa pun untuk melepas lelah sejenak, merangkul riuhnya malam yang memandang manusia dengan pandangan yang berbeda dari siang. Malam tidak pernah menghakimi, dan tidak pernah memaksa manusia di bawahnya untuk membawa beban dunia, berbeda dengan siang yang memaksa manusia bergerak di bawah rimanya tanpa pengampunan.
Para pria dengan mudah menarik para wanita untuk menghabiskan malam, sementara sebagian lain memutuskan untuk menetap di bar sambil bercengkerama, dan sebagian lain menikmati hentakan musik sambil memegang para wanita yang berbeda setiap menitnya. Moros tidak terkecuali, duduk di sofa sambil dikelilingi dua wanita di kanan dan kiri, lengkap sudah. Tapi yang paling menarik perhatiannya adalah wanita berambut merah pendek, dengan badan gemulai dan wajah yang begitu cantik.
Tangannya merangkul pinggang wanita itu, dengan pelan dia berbisik di telinga sang wanita. “Siapa namamu?”
Wanita itu tersipu malu seperti pekerja pada umumnya, kemudian denga genit merangkul leher Moros seolah mencari atensi lebih dari sang pria. Lantas dia membalas berbisik, “Erinyes.”
“Erinyes.” Moros bergumam, merasakan nama itu di lidahnya. Memang peraturan di Angelic Club berbeda dengan lainnya, mereka menggunakan nama samaran untuk pekerja mereka agar identitas mereka setidaknya dapat terjaga.
“Ingin menghabiskan malam bersama?” Moros tidak berbasa-basi, dia mendekatkan hidungnya ke leher Erinyes, meresapi aroma parfum di leher putih itu lekat-lekat.
Erinyes menghela napas dan menutup mata, membiarkan Moros mendekat, kemudian dia tertawa kecil dan mengambil segelas whiskey dan memberikannya pada Moros. Sang pria menerimanya dengan senang hati dan meminum tanpa memutuskan pandangan. Erinyes terlalu cantik dan gemulai, maka membuang pandangan adalah hal yang sia-sia.
“Barangkali nanti? Mari kita bersenang-senang dulu malam ini.” Erinyes berkata lantas menuangkan kembali whiskey pada gelas Moros yang telah kosong.
Moros tidak protes, dia menerima saja perlakuan dari Erinyes. Mereka mengobrol dengan ria, tentu saja Moros tidak lepas dari meraba-raba badan Erinyes, karena itu sudah menjadi kebiasaannya. Tidak ada satu pun wanita cantik di club mana pun yang lepas dari sentuhannya. Erinyes pun tidak protes sama sekali, justru mendekatkan diri pada Moros dan menerima segala sentuhan seolah sudah terbiasa, atau memang begitu. Sesekali saat mereka mengobrol, wanita itu selalu menuangkan whiskey setiap kali gelas Moros kosong.
“Apa kau sudah punya kekasih?” Moros bertanya, sambil meminum whiskey–nya. Manik mata hitam itu mengerjap perlahan saat alkohol mulai merasuk dan mempengaruhi sistem tubuhnya, sebab Erinyes tidak berhenti menuangkan whiskey setiap kali gelas pria itu kosong.
Erinyes tertawa, menggelengkan kepalanya pelan sembari mendekat pada Moros. “Tidak, hanya mantan yang bajingan.”
“Mantan? Betapa ruginya mereka menyia-nyiakan dirimu.” Moros menjawab. Bagaimana tidak? Wanita secantik Erinyes disia-siakan begitu saja oleh makhluk bernama mantan itu. Erinyes tersenyum tipis, kemudian mengangguk setuju dengan pernyataan Moros.
“Iya kan? Betapa ruginya dia.” Erinyes berkata. Dia lantas menyadari bahwa Moros sudah semakin berada di bawah pengaruh alkohol. Sang wanita melingkarkan kembali tangannya di leher Moros, memberikan akses kepada sang pria untuk menyentuh setiap inci dari tubuh gemulainya itu.
“Kalau kau sendiri? Sudah punya kekasih atau barangkali … anak?” Erinyes bertanya sembari menyandarkan kepalanya pada dada Moros. Moros tertawa dan menggelengkan kepalanya.
“Anak? Apa aku sudah setua itu dimatamu?” Moros menyeringai. Erinyes turut tertawa, meskipun ada yang sedikit janggal dalam tawa itu, atau mungkin hanya perasaan Moros saja? Ah, mungkin karena whiskey itu mulai mengaburkan pikirannya sedikit demi sedikit sehingga dia tidak mampu mendengar dengan jernih. Moros menyandarkan kepalanya pada bahu Erinyes.
“Should we?” suara serak itu berbisik sekali lagi. Tampaknya Moros tidak lagi betah berlama-lama duduk dan bercengkerama, terlalu membosankan untuk melewatkan malam dengan seperti itu saja, sementara tubuhnya sudah mendamba sedemikian rupa.
“Yeah, we should. I think it’s the perfect time.” Erinyes membalas lantas membiarkan Moros berdiri terlebih dahulu dan memimpin jalan. Pria itu dengan mudah menyewa VIP room untuk semalam. Sang wanita pun tidak protes dengan kemewahan yang dia dapatkan, dan tentu saja dia tahu bahwa Moros lebih daripada mampu untuk menyewa VIP room.
Suara musik yang begitu kencang dan sorotan optik warna-warni dari lampu disko seakan mengabur saat mereka mencapai kamar. Tanpa membuang waktu dan berbasa-basi lebih lama lagi, Moros meraba-raba tubuh Erinyes dengan leluasa, tanpa ada mata yang memandang dengan saksama. Desau kasar keluar dari tenggorokan sang pria saat dia akhirnya mendapat apa yang ia tunggu sejak berjam-jam lalu. Tubuh Erinyes seakan berada di bawah kuasanya saat sang wanita mengikuti irama geraknya, seolah menyerahkan takdir malam ini pada tangan yang membeli harga.
Moros mendorong Erinyes ke kasur, tetapi wanita itu menahan pergerakan Moros selanjutnya dan dengan lihai mengubah posisi mereka. Hal itu mengejutkan sang pria, tentu saja karena tidak biasanya wanita yang memimpin pergerakan pria. Kini Moros yang berada di bawah Erinyes. Tapi Moros tidak bisa protes sebab pandangannya semakin mengabur dari detik ke detik, ah … dia terlalu mabuk malam ini. Seharusnya dia tidak minum sebanyak itu tadi.
“Boleh kah aku?” rayu Erinyes memasuki indra pendengaran Moros dengan mudahnya, pria itu menganggukkan kepala sambil menyeringai di tengah kepalanya yang berdenyut semakin hebat.
“Yeah, aku rasa lebih baik begitu.” Moros berkata lantas berbaring dan membiarkan Erinyes bekerja, sebab dia merasa cukup mabuk untuk memimpin malam ini sekaligus dia ingin melihat seberapa hebat kemampuan wanita itu di ranjang.
Pandangan Moros semakin mengabur, dia menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali hanya untuk dapat melihat wajah Erinyes dengan jelas. Dia masih dapat merasakan sentuhan wanita itu di tubuhnya, perlahan dan gemulai, tepat seperti yang Moros perkirakan sebab begitulah tubuh wanita itu berbicara. Desau puas kembali dia lepaskan saat dia merasakan jari-jari Erinyes memanjakan tubuhnya secara bertahap. Andai saja dia bisa melihat wajah itu dengan lebih jelas, pasti rasanya lebih memuaskan sebab dia membayar harga lebih untuk melihat pemandangan seharusnya diabadikan.
Ah … I shoudn’t have drunk so much earliner … what a waste …
Gerangan kenikmatan lagi-lagi keluar dari tenggorakan sang pria saat Erinyes mulai memuaskan raga bagian bawahnya. Tangan itu menarik rambut merah sang wanita agar dia dapat bergerak dengan lebih cepat karena puncak kenikmatan semakin dekat. Erinyes bekerja dengan sangat baik, bahkan baru awal seperti ini rasanya Moros begitu terpuaskan. Tidak heran Erinyes menjadi salah satu pekerja unggulan di Angelic Club dengan rekomendasi paling banyak dari kalangan atas.
“I’m close-“
Tubuh itu menegang. Gerangan keras berubah menjadi teriakan tertahan, tetapi bukan kenikmatan, melainkan sesuatu yang lain. Dalam sekejap, napas Moros memburu lantas menatap Erinyes dengan manik hitam yang mengabur itu, dan seketika mendadak segalanya menjadi jelas. Di atasnya, Erinyes memegang pisau yang telah dibanjiri dengan darah segar, yang seiras dengan warna cairan yang mulai membasahi seprei kasur. Kemudian Moros menyadari bahwa pisau itu telah menyayat alat kelaminnya dan darah itu berasal darinya. Rasa kebas pada tubuhnya membuat pria itu terlambat menyadari, namun tidak cukup untuk menunda rasa sakit yang dalam sekejap menghampiri.
“Bajingan apa yang kau lakukan-“
Belum sempat Moros menyelesaikan umpatannya, Erinyes sekali lagi bergerak untuk menancapkan pisau itu pada kelamin Moros. Pria itu menjerit kesakitan, matanya sontak menatap mata Erinyes. Namun, yang dia lihat bukanlah mata penuh kemanjaan yang familiar, melainkan mata penuh dendam yang seakan mengatakan bahwa hari ini adalah hari penghakiman. Mata abu-abu yang sekejap berubah memerah dengan setiap helaan napas seolah merupakan hukuman dari Tuhan atas pendosaan yang telah manusia itu perbuat.
“Bajingan? Bukannya kau yang bajingan?” Erinyes berkata dengan santai. Wanita itu mencabut pisau itu, dan membuahkan teriakan tertahan lagi dari Moros. Sang pria berusaha bangkit untuk sekedar memberikan pelajaran, tapi seluruh tubuhnya seakan dibuat tunduk pada satu kekuasaan.
“Percuma, kau tidak akan bisa melawan.” Erinyes berkata kemudian dia mengeluarkan sebotol LSD yang dia campurkan pada setiap whiskey yang telah diminum Moros. Mata pria itu membelalak terkejut, pantas saja tubuhnya terasa kebas, seperti mati rasa. Itu adalah tujuan Erinyes agar pria itu tunduk di bawah kendali satu pawang boneka.
****
Oh Lord … this is what she has been waiting for … the smell of revenge
Kepuasan tersendiri bergema dalam diri Erinyes, bahkan lebih antusias dari detak jantung itu sendiri tatkala cairan merah itu mengalir di bawah kuku jarinya. Aroma pahit bercampur asam seperti besi mencium indra penciuman, namun tidak cukup untuk membuatnya terpuaskan. Erinyes melihat Moros yang tidak berdaya di bawahnya. Wajah pucat, napas terengah dengan tubuh kebas seakan ditimpa beban ribuan ton yang tak kasat mata.
“Kau tidak punya anak ya?” Erinyes bergumam. Tangannya menggenggam pisau itu semakin erat. Napas Moros memburu, tampak akan menerjang namun tidak berkekuatan.
“Aku memang tidak punya-“
“Liar!” Erinyes berkata lantas menancapkan pisau itu sekali lagi, tapi kali ini pada dubur Moros. Moros menjerit, dan sang wanita hanya mampu mengulas senyuman melihat penderitaan sang lawan.
“Kau siapa sebenarnya?!” dengan napas terengah-engah menahan sakit, pula dengan suara bariton yang semakin layu itu, Moros mencoba membentak.
“Kau tidak sadar juga ya?” Erinyes bergumam kemudian dia melepaskan wig merah yang ia kenakan. Menampakkan rambut pendek sebahu yang sengaja dipotong berantakan, tangan berdarah Erinyes mengusap makeup yang dia kenakan sehingga sang pria lebih mengenal siapa dia yang sebenar.
“Kau ingat gadis yang kau elu-elukan dahulu? Yang kau tipu bahwa kau tidak punya pasangan tapi ternyata kau beristri, bajingan?” Erinyes berkata.
Mata Moros membulat, dia mengenali siapa Erinyes sebenarnya ketika makeup itu terhapus sepenuhnya, dan ketika rambut merah itu tidak menarik perhatian siapa-siapa. Dia juga mengingat perkara mahasiswi yang dia kencani setahun silam. Mahasiswi yang polos dan ceria. Tidak seperti wanita yang ia lihat di hadapannya. Mahasiswi itu bahkan terlalu lembut dan berbaik hati, bukanlah pekerja club yang gemar berkeliaran.
Erinyes menyeringai, “Benar, aku Nemesia.”
“Kau harus tahu, sudah setahun terakhir aku bekerja di sini untuk mendapatkan informasi tentangmu dan menarik perhatianmu, karena aku tahu penismu tidak tahan melihat wanita cantik yang dibiarkan telanjang,” Erinyes berkata.
Setahun terakhir, wanita itu bekerja di Angelic Club, dengan Erinyes sebagai nama samaran. Erinyes atau tiga Dewi Yunani Kuno yang mempersonifikasi pembalasan dan penegakkan keadilan. Nama itu menjadi simbol mengapa dia berada di sini, berlumuran darah hanya demi membalas raga. Dia lantas menggoreskan pisau itu ke perut hingga bagian bawah tubuh Moros.
Moros terkesiap, mengerang kesakitan saat Erinyes … ah tidak … Nemesia menggores setiap luka baru pada tubuh itu. Napasnya semakin memburu sebab darahnya kian menyurut. Pandangan itu mulai mengabur lagi, tetapi dia adalah seorang lelaki, seharusnya dia tidak pingsan di sini. Namun, entah mengapa dia berpikir lebih baik mati saja hari ini.
“Kau tahu aku hamil malam itu.”
Benar, seharusnya Moros mati saja saat ini.
“Kau tahu aku berniat mempertahankan bayi itu. Tapi kau justru menjebakku untuk meminum obat untuk menggugurkan kandungan dan meninggalkanku begitu saja untuk mengubur bayiku.” Nemesia berkata sembari mencondongkan badannya ke arah Moros . Dengan mudah, tangannya memainkan pisau itu di antara nadi leher sang pria, seolah dia adalah malaikat maut yang diberi kuasa untuk mencabut nyawa.
“… dan biarkan malam ini aku membuatmu merasakan neraka di dunia.” Nemesia berkata kemudian menancapkan pisau itu pada paha Moros, kemudian menyeret benda itu hingga telapak kaki. Moros menjerit, meronta dengan segala tenaga yang ada, namun kalah oleh tekanan kebas dan kesakitan.
Nemesia justru tertawa mendengarkan itu semua, serasa jeritan kesakitan itu adalah lagu yang begitu menyenangkan untuk didengarkan. Nemesia lantas menusuk perut Moros, membelah secara terbuka perut itu layaknya seorang bidan yang tengah melaksanakan C-section dengan lihai. Tidak cukup dengan itu, Nemesis mengobrak-abrik isi perut itu dengan tangan, kemudian mengambil lambung dan usus Moros, dan meletakkannya di dekapan sang bajingan.
“Itu adalah bayi kita, cantik bukan? ia laki-laki.”
Tatkala mata Nemesia menatap mata Moros dan seketika pria itu menyadari sesuatu, ia berada di tengah-tengah pertarungan antara mempertahankan hidup atau memohon pada malaikat maut untuk menjemput jiwanya, there is a little bit of devil in her angel eyes.
Moros tidak tahu lagi, dia ingin malaikat maut untuk segera mencabut nyawanya, namun rasanya malaikat itu tengah berdiri di pojok ruangan, menatap dengan kegirangan. Seolah dia sedang menyemangati Nemesia untuk menyiksa Moros selama-lamanya, sebab dia setia menunggu selagi Tuhan belum mengiyakan dengan saksama. Namun pada hari ini, Tuhan membiarkan manusia membalas dendam atas keadilan yang tidak ia dapatkan di antara para manusia lainnya.
Even the Lord has taken her side.
Nemesia tidak berhenti di situ, isi perut Moros telah dia acak-acak seolah dia baru mengeluarkan bayi dari sana. Senyum kegilaan itu tidak sirna, justru semakin membara saat dia mengangkat pisau itu lagi dan berkata, “… dan ini untuk semua perempuan yang telah kau nodai tanpa hormat.”
Malam itu diakhiri dengan jeritan Moros dan tangan Nemesia yang memegang alat kelamin pria itu, yang telah dipotongnya menjelma tropi persembahan.
Penulis: Aisyah Aprilia Syofi
