KESUNYIAN YANG BERSEMBUNYI DI TENGAH KEBISINGAN

Sejauh mata memandang tampak gedung gagah Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) yang menjulang tinggi ke langit. Gedung yang menjadi salah satu ikon Universitas Brawijaya ini berdiri kokoh di antara pepohonan rindang dan bising kendaraan. Ribuan kaca di dua belas lantai gedung memantulkan siluet langit seperti kilat cahaya yang tajam dan dingin.

Dua tahun yang lalu. Tepatnya pada Kamis, 14 Desember 2023, ketika ratusan mahasiswa FILKOM Universitas Brawijaya tengah menghadapi ujian akhir semester (UAS), seorang perempuan berinisial LD (24 tahun) ditemukan tewas di lantai 4 Gedung FILKOM UB. Petugas olah TKP menemukan jejak terakhir yang diduga milik korban di lantai 12 berupa sepasang sepatu dan sebuah kacamata yang ditinggal tanpa kepemilikan lagi.
Kejadian ini menjadi paradoks kesunyian dan saksi bisu adanya keputusasaan yang pernah hadir di tengah ramainya rutinitas kampus. Ia menjadi pengingat bahwa kesepian tidak selalu hadir dalam ruang yang kosong. Peristiwa ini menyisakan sebuah ironi; bahwa kesunyian terkadang tumbuh di tempat yang paling ramai, tanpa sempat disadari.
Sumber: Detikjatim, “Gedung Filkom Jadi Lokasi Bunuh Diri, UB: Harusnya Steril dari Orang Luar”

Kesan dingin yang terpancar dari luar gedung seolah berlanjut ke ruang-ruang di balik dindingnya. Di dalam lift yang sempit dan sesak terpampang layanan emergency call di sudut atas tombol lift. Warna merah mencolok dengan deretan nomor darurat yang tertulis terlihat kontras di antara dominasi abu-abu dinding lift yang menggertak agar tidak diabaikan.

Beralih ke jembatan Tunggulmas Tlogomas. Mobil, Motor, truk, dan kendaraan lain antri berdesak-desakan untuk melewati pertigaan Tunggulwulung di ujung jembatan. Setiap pengendara mengeratkan genggamannya pada setir, siap untuk menyalip setiap ada kesempatan. Klakson sesekali terdengar nyaring di telinga, bahkan suara deras aliran sungai di bawah jembatan terendam dengan kebisingan mesin kendaraan.

Tidak jauh dari hari ini, tepatnya pada Kamis, 10 April 2025, warga Malang digegerkan oleh kabar tewasnya seorang mahasiswa berinisial BG (20 Tahun), asal Jakarta Timur, di bawah Jembatan Tunggulmas. Polisi menduga korban mengakhiri hidupnya dengan melompat dari atas jembatan, meski hingga kini motif di balik peristiwa tersebut tidak pernah benar-benar terungkap.
Yang tersisa dari peristiwa itu bukan hanya kabar duka, melainkan juga pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah benar-benar menemukan jawaban. Entah pergulatan apa yang tidak dapat terlihat ditengah keramaian. Sebagaimana sungai yang menyimpan arus kuat di balik alirannya yang tampak biasa, manusia pun kerap menyembunyikan beban yang tidak selalu dapat dibaca dan diterka.
Sumber: Times Indonesia “Pria Tewas di Jembatan Tunggulmas Kota Malang Ternyata Mahasiswa, Diduga Bunuh Diri”

Dari sudut pandang tepian jembatan Tunggulmas, sungai brantas terus mengalir dengan deras. Namun, Pagar besi dingin menjadi penghalang bagi semua orang yang ingin sesekali menoleh ke bawah jembatan. Di sisi lain, jalur pejalan kaki kerap terasa lengang, kalah ramai dibanding lajur kendaraan yang terus dipadati lalu lalang manusia. Ditambah saat malam tiba, bagian bawah jembatan tenggelam dalam gelap gulita, seolah menghapus keberadaannya dari perhatian orang-orang yang melintas di atasnya.

Jalan besar seperti Jembatan Soekarno-Hatta (Suhat) tentu tidak pernah absen dari bisingnya kendaraan. Ratusan kendaraan melintas setiap jam tanpa satu pun yang memperlambat laju untuk alasan lain selain kemacetan. Deru mesin, klakson, dan lalu-lalang manusia berpadu menjadi irama yang nyaris tidak pernah berhenti. Lampu rem menyala bergantian seperti napas kota yang terus dipaksa berlari.
Pada Jumat, 28 November 2025, Jembatan Soekarno-Hatta kembali menjadi lokasi berakhirnya kehidupan seorang mahasiswa berinisial NFR (25 tahun). Sebelum dinyatakan hilang dan kemudian ditemukan tewaspada malam harinya, NFR sempat mengirimkan pesan kepada sang adik. Bukan kemarahan atau tudingan yang ia tinggalkan, melainkan permintaan maaf, ungkapan terima kasih, serta harapan agar keluarganya tetap saling menjaga.
Sumber: detikjatim “Isi Pesan Terakhir Mahasiswa Malang Sebelum Bunuh Diri di Jembatan Suhat”

Di bawah Jembatan Soekarno-Hatta, Sungai Brantas mengalir tenang di antara bayang-bayang kolong jembatan. Tidak seperti Jembatan Tunggulmas yang dilengkapi pagar besi, pandangan dari atas Jembatan Soekarno-Hatta terbuka langsung ke bawah. Dari tepian jembatan, siapa pun dapat melihat dua wajah kota yang berdampingan; jalan raya yang tak pernah berhenti bergerak dan ruang sunyi di bawahnya yang nyaris luput dari perhatian. Kontras itu seolah menggambarkan Malang sendiri kota yang terus berlari, tetapi masih menyisakan ruang-ruang yang terlupakan.
Deru mesin terus bergantian dengan desir Sungai Brantas, sementara dinding-dinding beton tetap berdiri tanpa pernah mengingat siapa saja yang pernah singgah dalam keputusasaan. Kota ini terus melaju, menumpuk bangunan, memperlebar jalan, dan merawat keramaiannya, tetapi tidak selalu memberi ruang bagi mereka yang diam-diam kehilangan pijakan. Pada akhirnya, yang tertinggal bukan sekadar tiga lokasi di Kota Malang, melainkan jejak-jejak sunyi yang terus berulang.
Penulis: Nayla Zulva Al-Ulya
Fotografer: Nayla Zulva Al-Ulya
