MENJADI DER EINZIGE: MEMBOMBARDIR JERAT PATUH PADA RAHIM SEKOLAH

0
Ilustrator: Aura Bella Ranai Putri

Apa yang sebenarnya kita dapatkan dari sekolah selain penderitaan, terkungkung, dan terjajah? Sekolah tidak pernah diciptakan sebagai ruang pembebasan. Bahkan, saya yakin bahwa stigma “tidak sekolah sama dengan bodoh” hanyalah konstruksi promosi demi kepentingan komersial sekolah saja. Sebab, sepanjang pengalaman saya bersekolah, saya tidak pernah benar-benar merasakan kebebasan—bahkan kebebasan untuk membaca ataupun menulis yang semuanya telah berada di balik hegemoni kehendak kontrol.

Sekolah adalah miniatur masyarakat. Setiap sistem sosial yang kita jalani bermula dari rahim sekolah. Namun, sekolah selama ini hanya mengajarkan kepatuhan, yang pada akhirnya melahirkan masyarakat yang tunduk, taat, dan pasrah. Padahal, kebebasan tidak lahir dari kepatuhan. Kebebasan selalu lahir dari pemberontakan.

Hampir dua puluh tahun hidup kita dihabiskan di ruang kelas yang memenjarakan, hanya untuk kemudian memasuki dunia kerja yang eksploitatif. Kita tidak pernah benar-benar menjalani kehidupan yang kita inginkan, atau bahkan mengetahui apa yang benar-benar kita inginkan. Keinginan kita yang sejati telah tertutup rapat oleh sistem ini—sistem yang busuk dan menindas. Dalam sistem ini, kita tidak akan pernah memiliki dunia kita sendiri.

Max Stirner (Johann Kaspar Schmidt), dalam artikelnya yang berjudul The False Principle of Our Education (Das Unwahre Prinzip Unserer Erziehung), menguraikan gagasan tentang pendidikan yang membebaskan. Ia menulis:

“Pendidikan seharusnya membentuk manusia yang personal dan bebas, manusia yang mampu menciptakan dirinya sendiri. Kebenaran itu sendiri tidak lain adalah pengungkapan manusia terhadap dirinya sendiri. Hal ini mencakup penemuan diri, pembebasan dari segala sesuatu yang asing, penghapusan otoritas eksternal, dan kembalinya individu ke sifat alaminya yang sejati. Namun, manusia sejati—manusia yang sepenuhnya bebas—tidak lahir dari sekolah; jika mereka ada, itu karena mereka berhasil melampaui batas-batas sekolah.”

Dari pemikiran Stirner, jelas bahwa kebebasan individu mustahil tumbuh dalam sistem pendidikan yang mengekang. Selama ini, sekolah tidak menampakkan dirinya sebagai ruang pendidikan sama sekali. Saya hanya mampu melihat sekolah sebagai bagian dari perusahaan kapitalis. Tuntutan sekolah agar siswanya berprestasi bukanlah demi kepentingan pendidikan, melainkan cara untuk meningkatkan reputasi dan nilai jualnya sebagai perusahaan. Setiap siswa hanyalah komoditas potensial dalam skema bisnis sekolah.

salah satu bukti bahwa sekolah tidak berfungsi sebagai ruang pendidikan ataupun pembebasan adalah keberadaan aturan-aturan yang absurd. Salah satu contohnya adalah larangan berambut panjang. Alih-alih menghapus aturan tersebut, sekolah justru memperpanjang urusan dari aturan bermasalah dan tidak masuk akal ini. Masalah rambut, sekolah selalu mendalihkan tentang kerapian. Padahal, standar estetika bersifat subjektif dan tidak seharusnya menjadi alat kontrol. Atau, mungkin justru dengan peraturan-peraturan semacam ini, sekolah secara gamblang membuka kedoknya sebagai lembaga yang menuntut kepatuhan buta.

Sekolah juga kerap menjadi pemicu konflik horizontal antara anak dan orang tua. Banyak orang tua yang terjebak dalam ilusi bahwa sekolah adalah satu-satunya jalan menuju kesuksesan, lalu menekan anak-anak mereka untuk mengikuti standar yang ditetapkan institusi ini. Keinginan anak untuk membentuk identitasnya sendiri sering kali berbenturan dengan ekspektasi orang tua yang telah menjadi korban propaganda sekolah. Bahkan, dalam banyak kasus, orang tua terpaksa berhutang demi membiayai pendidikan anak mereka—utang yang diakibatkan oleh tipu daya industri pendidikan yang menjual harapan kosong.

Jadi, dimanakah kebebasan? Selama kita masih terbelenggu dalam sistem ini, kebebasan hanyalah ilusi. Untuk menjadi manusia yang benar-benar merdeka, kita harus berani melepaskan diri dari jerat pendidikan yang mengekang ini dan membangun dunia kita sendiri—dunia di mana kita menjadi penguasa atas diri kita sendiri.

Namun, melepaskan diri dari jerat ini bukan perkara mudah. Sejak kecil, kita telah dididik untuk tunduk, untuk percaya bahwa tanpa sekolah kita bukan siapa-siapa. Kita dibentuk menjadi individu yang takut dianggap menyimpang, takut bertanya, takut untuk mempertanyakan sistem yang selama ini mengatur hidup kita.

Sekolah tidak mengajarkan kita untuk berpikir kritis sama sekali, melainkan untuk menghafal dan meniru. Mereka yang berani berpikir di luar batas yang ditentukan akan dicap sebagai pembangkang, anak nakal, atau siswa bermasalah. Sebaliknya, mereka yang patuh, yang menerima aturan tanpa protes sama sekali, akan dianggap sebagai siswa teladan. Dengan cara ini, sekolah telah berhasil menanamkan kepatuhan sebagai nilai utama dalam kehidupan sosial kita.

Dunia kerja pun tidak jauh berbeda. Mereka yang terbiasa tunduk di sekolah akan menjadi pekerja yang patuh, yang tidak mempertanyakan sistem yang mengeksploitasi mereka. Atasan akan menggantikan peran guru, kantor akan menggantikan ruang kelas, dan gaji akan menggantikan nilai rapor. Sekolah bukanlah tempat untuk membentuk individu yang bebas, melainkan pabrik yang mencetak tenaga kerja yang siap dieksploitasi.

Bagi mereka yang menyadari kebobrokan sistem ini, mungkin hanya ada dua pilihan: melawan, atau melepaskan diri. Melawan berarti menantang otoritas, mempertanyakan aturan yang mengekang, dan menuntut kebebasan yang sesungguhnya. Namun, perlawanan semacam ini seringkali berakhir dengan hukuman, baik secara langsung maupun tidak langsung. Mereka yang melawan akan dicap sebagai pembuat onar, disingkirkan, atau bahkan dihancurkan karirnya.

Sedangkan melepaskan diri berarti membangun kehidupan di luar sistem yang telah ditetapkan. Ini bukan hal yang mudah, tetapi bukan pula hal yang mustahil. Manusia yang bebas adalah mereka yang tidak lagi bergantung pada sekolah, pada gelar, pada sistem yang mengontrol hidup mereka. Mereka menciptakan jalan mereka sendiri, membangun dunia mereka sendiri, menjadi tuan atas diri mereka sendiri.

Max Stirner menyebut manusia seperti ini sebagai Der Einzige, “Yang Unik,” individu yang telah membebaskan dirinya dari segala bentuk otoritas eksternal. Der Einzige tidak lagi tunduk pada aturan yang dibuat oleh orang lain, tidak lagi mencari pengakuan dari masyarakat, dan tidak lagi terikat oleh standar yang ditetapkan oleh sistem. Ia hanya tunduk pada dirinya sendiri, pada kehendaknya sendiri, pada kebebasannya sendiri, ia hanya akan melayani dirinya sendiri

Mungkin, kita semua harus mulai bertanya pada diri sendiri: Apakah kita tetap ingin  menjadi bagian dari sistem yang mengekang ini, ataukah kita ingin menjadi manusia yang unik, manusia yang benar-benar merdeka? Sebab, kebebasan sejati tidak akan pernah diberikan oleh sekolah, oleh negara, atau oleh masyarakat. Kebebasan hanya bisa kita ambil sendiri, dengan tangan kita sendiri. Kebebasan hanya akan kita capai jika kita merebutnya.

Penulis: Robert Ignatius (kontribusi pembaca)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.