BERSAMA POKDARWIS KAJOETANGAN MERAYAKAN KEMARIN DAN MENGHIDUPI HARI INI
Sumber: Arsip Pokdarwis Kajoetangan
MALANG—KAV. 10 Di jantung Kota Malang, di mana deru mesin modernitas berkejaran dengan waktu, terik matahari yang menyengat kulit tak menghentikan langkah kaki pengunjung yang kian berdatangan. Jejak tersebut bergema di antara lorong-lorong sempit Kampung Heritage Kajoetangan. Rumah-rumah tua yang menjadi naungan ratusan pengunjung berlindung dari panasnya matahari beradu dengan dengungan percakapan dan denting cangkir yang kian bersenggolan dari kedai-kedai kopi rumahan. Aroma kopi yang baru diseduh menguar dari sudut gang dan semilir angin yang sesekali berhembus membawanya untuk mendinginkan hati yang gundah gulana.
Tak perlu waktu lama untuk menemukan sebuah rumah kecil di sudut gang Kampung Heritage Kajoetangan. Rumah sederhana itu menjadi sekretariat Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kajoetangan. Cat yang mengelupas di dalam rumah itu tak menghentikan pemiliknya untuk menggantung bukti dari berbagai prestasi dan perjalanan yang telah ditempuh oleh Kampung Heritage Kajoetangan. Beberapa kursi plastik tersusun rapi menyambut tamu yang datang silih berganti. Dari rumah inilah banyak keputusan lahir, banyak diskusi berlangsung, dan banyak mimpi tentang Kampung Heritage Kajoetangan dirawat bersama.
Bagi turis sendiri, Kampung Heritage Kajoetangan hanyalah sebuah destinasi wisata di Kota Malang. Namun bagi warga yang hidup dan tumbuh di dalamnya, kampung ini adalah rumah yang telah memeluk mereka selama beberapa generasi.
Menghidupkan Kembali Jiwa Nostalgia di Jantung Kota
Perjalanan Kampung Heritage Kajoetangan menuju kampung wisata tidak dimulai dengan gemerlap dan dukungan besar. Pada tahun 2016, terinspirasi dari tren kampung warna-warni yang sedang merebak, warga dari 57 kelurahan di Malang diwajibkan mengikuti lomba kampung tematik.
Kajoetangan, yang masuk dalam wilayah Kelurahan Kauman, awalnya tidak serta-merta langsung mengangkat konsep cagar budaya. Melalui keterwakilan RW 9, warga justru mencoba peruntungan dengan mengusung keberadaan makam keramat Mbah Honggo demi mengejar konsep Kampung Wisata Religi.
Namun, rencana tersebut kandas di urusan administrasi. Status tanah makam yang masih milik ahli waris membuat area tersebut tidak bisa diotak-atik oleh pembangunan pemerintah, sehingga konsep wisata religi terpaksa vakum dan disimpan kembali. Harapan yang sempat tumbuh pun harus berganti arah.
Alih-alih menyerah, warga justru menemukan jalan lain. Pada tahun 2017, sejumlah akademisi, pegiat heritage, cagar budaya, dan pemerhati budaya datang menyusuri gang-gang Kampung Heritage Kajoetangan. Kehadiran orang-orang baru ini membawa sudut pandang segar yang perlahan menyingkap sesuatu yang selama ini luput dari pandangan warga sendiri.
“Di 2017 kita kedatangan tamu yang kita sebut sebagai inisiator, karena sebelumnya kami sendiri tidak terpikir ke arah sana. Inisiator itu datang dari pemerintah melalui Dinas Pariwisata, tim ahli cagar budaya, serta beberapa komunitas pencinta heritage. Kebetulan salah satunya adalah akademisi sekaligus dosen yang membawa mahasiswanya jalan-jalan ke sini.”
Sebab selama puluhan tahun, Mila Kurniawati, Ketua Pokdarwis Kampung Heritage Kajoetangan beserta warga lainnya memang tidak pernah menyangka bahwa ruang hidup mereka suatu hari akan menjadi magnet wisata.
“Saya lahir di sini. Asli warga sini. Mulai saya lahir, kecil sampai sekarang berkeluarga di sini, ya biasa saja seperti kampung pada umumnya,” tutur Mila.
Bagi warga sekitar, rumah-rumah tua yang kini menjadi latar swafoto para wisatawan dulunya hanyalah bagian dari keseharian yang melekat. Berdiri kukuh sebagai bangunan yang diwariskan dari generasi ke generasi, tidak ada yang menganggap deretan tembok tua itu sebagai sesuatu yang istimewa.
“Lahir besar di sini, enggak sadar bahwa sesuatu itu sebagai hal yang luar biasa. Sudah menganggap biasa saja. Tapi ketika ada orang luar datang dan memotret, ternyata sudut pandangnya berbeda,” kenang Mila.
Melalui lensa kamera para pendatang itulah, warga akhirnya ikut melihat kembali kampung mereka secara berbeda. Ada kekaguman baru yang tertangkap pada deretan rumah berusia puluhan tahun—sebuah bukti bahwa sejarah ternyata masih hidup dan bernapas di tengah kampung mereka sendiri. Dari kesadaran baru itulah gagasan Kampung Heritage Kajoetangan lahir, hingga akhirnya dideklarasikan secara resmi pada 22 April 2018.
“Banyak istilahnya yang bergerak itu emak-emak, ya. Akhirnya kita sepakat, habis Kartinian saja, tanggal 22 April kita launching supaya mudah mengingatnya,” tambahnya.

Sumber: berikwicaksono.com
Namun, membangun identitas baru sebuah kampung ternyata tidak semudah memasang papan nama di gerbang masuk. Tantangan terbesar justru datang dari dalam kampung itu sendiri.
“Pada mulanya, memang tingkat partisipasi atau kesadaran warga untuk menjadi sebuah kampung wisata itu minim sekali,” ujarnya. “Karena sebagian dari warga itu sendiri sudah punya pekerjaan dan penghasilan masing-masing, hidupnya sudah nyaman sehingga hal ini [menjadi kampung pariwisata] bukan sebuah hal yang mendesak.”
Untuk mengubah cara pandang itu, para penggerak kampung harus mendatangi satu per satu kelompok masyarakat. Mereka hadir dalam pertemuan PKK, berkumpul bersama bapak-bapak, berdiskusi dengan para pemuda, dan terus mengajak warga melihat potensi yang selama ini mereka miliki. Perjuangan itu berlangsung bertahun-tahun dan jauh lebih sulit karena mereka nyaris tidak memiliki modal.
“Benar-benar, waktu itu modal kita untuk membangun kampung ini nol rupiah,” kata Mila sambil tertawa kecil.

Fotografer: Layyina Tabina (kontribusi pembaca)
Tidak ada bantuan besar yang langsung turun. Tidak ada pembangunan instan yang mengubah wajah kampung dalam semalam. Warga mengumpulkan dana secara swadaya, patungan untuk menggelar acara, membuat kegiatan fotografi, mengadakan pertunjukan musik, hingga mempromosikan kampung melalui media sosial. Semua dilakukan perlahan. Sedikit demi sedikit.
Rumah yang Hangat di Balik Riuhnya Kajoetangan
Ketika wajah koridor luar Jalan Basuki Rahmat mulai bersolek pada tahun 2021 dengan deretan lampu hias estetik mirip Malioboro, Kajoetangan sempat viral. Sayangnya, viralnya kawasan luar justru sempat membuat nadi di dalam kampung berdenyut lesu. Wisatawan berbondong-bondong datang hanya untuk berswafoto di bawah temaram lampu jalanan kota, lalu pulang tanpa pernah melangkahkan kaki melewati gerbang masuk kampung.
“Itu sempat bikin kita down juga. Banyak rumah-rumah di dalam yang bergantung pada tamu, tapi tamunya tidak ada yang masuk dan justru berhenti di kafe-kafe luar,” kenang Mila.
Perlahan, tantangan itu berubah menjadi berkah terselubung. Wisatawan yang mulanya hanya sekadar melintas, mulai menyadari keberadaan sebuah kampung tersembunyi di balik padatnya toko pinggir jalan daerah Kajoetangan. Bagi para pencari atmosfer otentik, Kajoetangan yang sesungguhnya hanya akan ditemukan ketika mereka bersedia melangkah masuk ke dalam gang.
Perjalanan yang panjang itu menyingkap sesuatu yang luput dari mata sebagian besar orang, yakni rasa kekeluargaan. Kampung Heritage Kajoetangan bukan hanya kumpulan rumah tua yang berdiri berdampingan. Ia adalah jaringan hubungan kekeluargaan yang telah terjalin selama puluhan tahun. Banyak warga yang saling mengenal sejak kecil. Banyak keluarga yang hidup berdampingan selama beberapa generasi.
Ketika kampung mulai berkembang sebagai destinasi wisata, rasa memiliki itu justru semakin mengakar. Warga tidak hanya membangun kampung untuk wisatawan, mereka membangunnya untuk kepentingan bersama juga.

“Sebenarnya kenapa, sih masuk kampung saja kok harus berbayar? Karena di sini wilayah tempat tinggal, otomatis perubahan ini berdampak ke warga. Kita tidak ada support dari pemerintah untuk pemeliharaan dan segala macam, kita mandiri hanya mengandalkan pengunjung. Akhirnya dari kontribusi itu kita bilangnya bukan tiket masuk, ini adalah kontribusi lingkungan karena sepenuhnya kita kembalikan ke warga. Kenapa nominalnya Rp5.000? Itu sudah kesepakatan mulai awal,” terangnya panjang lebar.
Kalimat itu sederhana, tetapi mencerminkan cara pandang yang menjadi ruh Kajoetangan. Pariwisata tidak ditempatkan sebagai industri semata, melainkan sebagai sarana untuk merawat ruang hidup bersama.
“Uang tersebut kami kelola bersama, bahkan ada beberapa yang kami sisihkan sebagai beasiswa untuk membantu para anak-anak yang warga Kampung Heritage Kajoetangan ini untuk bersekolah.”

Sumber: Arsip Pokdarwis Kajoetangan
Kebersamaan itu juga tampak dari bagaimana warga menangkap peluang ekonomi yang hadir. Rumah-rumah yang dahulu hanya menjadi tempat tinggal perlahan berubah menjadi kedai kopi, galeri kecil, hingga tempat menjual berbagai produk kreatif. Namun sebagian besar usaha tersebut tetap dimiliki oleh warga sendiri.
“Rata-rata usaha yang ada di dalam sini [Kampung Heritage Kajoetangan], sebenarnya pemilik rumahnya sendiri yang inisiatif untuk buka usaha. Bukan investor,” ungkap Mila.
Secangkir kopi yang ada di Kampung Heritage Kajoetangan tidak hanya disajikan di sebuah kedai. Kopi itu disajikan di ruang yang menyimpan cerita keluarga. Di teras yang pernah menjadi tempat bermain anak-anak. Di rumah yang telah menjadi saksi perjalanan beberapa generasi.
Kini, Kampung Heritage Kajoetangan telah menjelma menjadi salah satu tujuan wisata yang dikenal luas di Kota Malang. Puluhan usaha tumbuh di dalam kampung. Ribuan pengunjung datang setiap bulan. Lorong-lorong yang dulu sepi kini dipenuhi langkah wisatawan yang ingin melihat sisi lain kota.
Mila mengakui bahwa membangun kesadaran bersama adalah proses yang tidak pernah benar-benar berakhir. Perjalanan dalam membangun Kampung Heritage Kajoetangan menuju sesuatu yang lebih baik itu belum selesai, melainkan terus berlanjut.
“Kalau sekarang dibilang seratus persen warga menerima pariwisata, saya kira belum juga. Tapi, kalau dulunya warga masih belum terlalu sadar dalam berpartisipasi, sekarang sudah bisa memiliki inisiatif untuk membantu.”

Sumber: Arsip Pokdarwis Kajoetangan
Harapan yang dimiliki pun juga sederhana, agar Kampung Heritage Kajoetangan tetap menjadi rumah yang nyaman bagi warganya sekaligus ruang yang terbuka bagi siapapun yang ingin mengenal sejarah dan kehidupan di dalamnya.
Menjelang sore, cahaya matahari mulai merambat turun di antara atap-atap rumah tua. Beberapa wisatawan masih berjalan perlahan menyusuri gang, sementara suara tawa warga terdengar dari kejauhan. Kehangatan yang tercipta di kampung ini bukanlah sesuatu yang dibangun dalam semalam. Hal tersebut lahir dari tahun-tahun panjang yang dipenuhi kerja keras, kesabaran, dan kebersamaan.
Penulis: R. AJ. Afra Aurelia Luqyandysa
Editor: Fenita Salsabila
