MENYOROTI DIAMNYA UB DALAM TEROR YANG DIALAMI PRESIDEN BEM UGM, PRESIDEN EM: TERDAPAT POLITISASI DI UB
Fotografer: Nabila Riezkha Dewi
MALANG-KAV.10 Menanggapi adanya teror yang dialami oleh Presiden BEM UGM (Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada) setelah mengkritik program MBG (Makanan Bergizi Gratis), Presiden EM UB (Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya), Muhammad Azhar Zidane turut mengecam adanya peristiwa tersebut. “Tentunya saya pribadi dan teman-teman dari EM sangat mengecam terkait adanya tragedi pembungkaman atas segala kritik-kritik yang ada,” ujarnya pada Senin (02/03).
Ia menilai peristiwa teror yang dialami oleh Presiden BEM UGM memiliki keterkaitan dengan kondisi kebebasan berpendapat di ruang publik. “Aksi-reaksi adanya kritik lalu terdapat pembungkaman dalam bentuk terorisme yang akhirnya mengkhianati dan mencederai bagaimana demokrasi kita berjalan,” jelasnya. Menurutnya, meskipun belum ada kepastian mengenai pelaku teror, rangkaian kejadian yang muncul setelah kritik disampaikan menjadi perhatian serius.
Zidane pun menyoroti sikap UB yang dalam beberapa momen memilih untuk diam. “Kita [EM] sebetulnya sangat-sangat menyoroti bagaimana UB sebagai salah satu institusi dan kampus besar, tetapi dalam beberapa momen itu seperti terpolitisasi dan memilih untuk diam,” tuturnya. Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut menjadi perhatian karena kampus dinilai memiliki peran penting dalam menyampaikan sikap di ruang publik.
Menyoroti Dhia Al Uyun selaku dosen FH (Fakultas Hukum) yang ikut mengecam peristiwa tersebut, Zidane sangat mendukung apa yang dilakukan Dhia. Ia merasa bahwa UB dan juga akademisi yang ada di bawahnya adalah dua hal instrumen yang harusnya satu suara tetapi pada akhirnya selalu berbeda suara.
“UB dalam beberapa tahun terakhir tidak memperlihatkan sebagai universitas yang betul-betul ketika ada konteks apa, mau menyampaikan bagaimana pernyataannya, sikapnya, dan lainnya,” ungkapnya. Ia berpendapat bahwa UB yang berada di lingkup akademis tidak seharusnya masuk dalam ruang lingkup politik dan terpolitisasi.
“Tapi harapan saya UB dapat menjadi kampus yang menjadi garda terdepan untuk menyampaikan kebenaran dan ketidakbenaran yang ada di ruang lingkup masyarakat sekarang.”
Sebagai bentuk sikap atas hal yang menimpa Presiden BEM UGM, tim Lingkar Kastrat (Kajian dan Aksi Strategis) EM UB telah berkoordinasi dengan jajaran BEM Fakultas untuk merumuskan sikap bersama. “Insya Allah nanti dalam waktu dekat kita bersama teman-teman EM dan BEM Fakultas akan membuat pernyataan sikap bersama, tapi tidak hanya ngomongin soal isu terkait pembungkaman, nanti kita akan soroti juga terkait bagaimana evaluasi kebijakan yang ada,” ucap Zidane. Ia juga menyebut reformasi POLRI (Kepolisian Negara Republik Indonesia) menjadi salah satu poin yang akan didorong dalam pernyataan tersebut.
Menanggapi kemungkinan jika situasi serupa terjadi di UB, ia memastikan hal itu tidak akan menghentikan langkah EM. “Pertama, kita tidak menjadikan hal ini sebagai alasan bagi kita untuk berhenti mengkritik dan berhenti untuk bersuara,” tuturnya. Ia menambahkan bahwa EM telah mempertimbangkan berbagai risiko dan tetap berkomitmen menjalankan perannya. “Jika nanti itu akan terjadi di EM, kami sangat-sangat siap untuk mendapatkan hal tersebut [represi],” tegasnya.
Penulis: Nabila Hanifaty Nuryasha (anggota magang)
Editor: Nabila Riezkha Dewi
