BICMES FISIP UB GELAR KAJIAN TENTANG SIKAP DUNIA ISLAM ATAS SERANGAN KE IRAN

MALANG-KAV.10 Masjid Ibnu Khaldun Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) pada Kamis (5/3) siang itu hanya tak banyak dipenuhi orang. Secara keseluruhan, mereka hanya mengisi seperempat luas masjid. Dengan tujuannya masing-masing, mereka menghadiri Kajian Ramadhan Bicmes yang berjudul “Sikap dan Dukungan Dunia Islam atas Serangan ke Iran”. Ada dua pemateri di acara siang itu, yakni Abdullah, S.Sos., M. Hub.Int., selaku koordinator Iran Corner; dan M. Fikri A. R., Ph.D., selaku akademisi FISIP UB.
Kajian dimulai dengan pemaparan materi oleh Abdullah. Ia menjelaskan latar belakang historis terpecah belahnya negara-negara Timur Tengah. Kepentingan negara-negara Barat, menurutnya, menjadi alasan mengapa fenomena tersebut bisa terjadi. “Jadi negara Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab, Qatar, Arab Saudi itu merupakan negara yang diberikan konsesi oleh Inggris dan Prancis karena mendukung perjuangan Inggris untuk memecah belah kerajaan kekhalifahan Turki Utsmani,” ucapnya.
Latar belakang tersebut, menurut Abdullah, menjadikan Islam saat ini mengalami krisis solidaritas dan identitas umat karena kurangnya kuasa seorang pemimpin atas negara. “Pangkalan-pangkalan militer Amerika yang ada di Arab Saudi, Kuwait, Irak, Lebanon, Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab digunakan untuk menyerang Republik Islam Iran. Ini menandakan apa? Konsep krisis tentang identitas umat,” kata Abdullah.
Ia menekankan bahwa umat Islam harus memahami agamanya secara komprehensif agar tidak termakan informasi yang bersifat adu domba. Abdullah mencontohkan informasi yang mem-framing bahwa Iran bukan negara beragama Islam dan konten yang membawa dalil-dalil akhir zaman. “Namanya riwayat itu bisa benar, bisa salah, loh, teman-teman. Karena hadis itu dibuat 200 [tahun] setelah Nabi meninggal. Artinya banyak sekali para ahli-ahli hadis mengatakan banyak hadis palsu,” jelasnya.
Menurut Abdullah, umat Islam harus terbiasa hidup dengan berbagai aliran agar Islam tidak mudah untuk dipecah belah. “Kita hargai itikad baik daripada ulama-ulama dan tokoh dunia, bahwasanya di dalam Islam ada delapan mazhab [termasuk Syiah] yang disahkan resmi,” ujar Abdullah.
Pembahasan yang dilakukan oleh Abdullah tersebut berlangsung sekitar 35 menit. Setelahnya, pembahasan kemudian oleh M. Fikri A. R. Ph.D., selaku akademisi FISIP UB. Fikri menjelaskan seputar pemberitaan media terhadap konflik yang terjadi antara Iran dan Amerika Serikat. Menurutnya, konflik selalu berhubungan dengan media. “Karena konflik merupakan news value. Jadi, konflik itu pasti ada yang memberitakan karena memiliki nilai berita,” ujarnya.
Ia menambahkan betapa pentingnya masyarakat untuk menyimak pemberitaan tentang serangan ke Iran. “Kita perlu tahu. Kalau tidak diberitakan, ya kita enggak tahu kejadiannya bagaimana, korbannya berapa,” tegasnya.
Media, menurut Fikri, harus memberitakan peristiwa secara proporsional, objektif, dan tidak berlebihan. Jika berlebihan, suatu media rawan untuk mengalami komodifikasi, yaitu saat nilai guna berganti menjadi nilai tukar. Dalam konteks konflik kali ini, media tidak hanya digunakan untuk memberitakan, tetapi dijadikan sebagai alat komersial.
Ia mengkhawatirkan berita-berita yang dikomodifikasi ini menyebabkan conflict of discourse, yaitu konflik antara media dengan berita yang lengkap dan media dengan berita yang kurang lengkap. “Pembaca yang tidak paham bisa tambah tidak paham, bahkan bisa keliru dalam memahami konten yang terjadi,” jelasnya. Framing berita yang terlalu dilebih-lebihkan memang mengundang banyak pembaca dan iklan (engagement), tetapi media juga harus memperhatikan inti dari berita yang mereka angkat untuk mempertahankan prinsip netralitas dan tidak memperkeruh konflik yang ada.
Untuk mengatasi permasalahan ini, Fikri mengimbau agar audiens tidak membaca sebuah pemberitaan dengan kepala kosong. Ia juga menghimbau agar audiens selalu membaca berita dari media-media yang kredibel. “Kalau [pikirannya] kosong, maka [akan cepat] terprovokasi dan dipropaganda. Kemudian mencari media yang kredibel ya. Membaca dari sumbernya langsung kemudian membandingkan dari berbagai sumber berita,” ujarnya mengakhiri materi.
Penulis: Na’ilatul Najmi Alifsya (anggota magang) dan Nur Istiyanti (anggota magang)
Editor: Muhammad Tajul Asrori
