BERBAGI TAKJIL LINTAS RIVALITAS, KOMUNITAS BONEK-AREMA USUNG PESAN DAMAI DARI KANJURUHAN

MALANG–KAV.10 – Sejumlah suporter yang tergabung dalam komunitas BONAR (Bonek-Arema) menggelar aksi berbagi takjil di kawasan Stadion Kanjuruhan dan Kromengan, Kabupaten Malang, pada Minggu (1/3). Meski sempat mengalami perpindahan lokasi dari Stadion Gajayana, aksi ini berjalan tanpa hambatan berarti.
Bambang, salah satu perwakilan suporter, menjelaskan bahwa keputusan mengalihkan lokasi dari Stadion Gajayana diambil untuk menghindari potensi gesekan. Hal itu disebabkan adanya kegiatan lain dari rekan-rekan Aremania yang berlangsung di waktu bersamaan. “Jadi kita yang geser, menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, kan begitu. Tapi semuanya berjalan dengan lancar,” terangnya.
Ia menambahkan, keputusan itu juga didorong oleh pertimbangan keamanan jelang laga panas di kandang. “Karena kita memikirkan keamanan Kota Malang, kondusifitasnya mendekati laga kandang Arema lawan Persebaya,” jelasnya.
Bambang menegaskan bahwa gerakan ini merupakan bagian dari perjuangan jangka panjang agar sepak bola bisa dinikmati tanpa kekerasan oleh generasi mendatang.
“Dengan adanya ini, kan kita memperjuangkan bukan untuk kita, tapi untuk kebaikan anak cucu kita di masa yang akan datang. Biar bisa bersepak bola dengan damai. Duduk satu tribun,” ujar Bambang.
Senada dengan itu, Tatang, Aremania asal Malang yang kini menetap di Surabaya, menegaskan bahwa aksi lintas rivalitas ini murni dilakukan untuk mempererat persaudaraan, tanpa ambisi pribadi. “Tujuan kita memang satu. Kita tidak mencari masalah, mencari saudara sebanyak-banyaknya. Saya tidak mencari tenar, tidak cari muka, yang saya pastikan itu satu Jatim Adem. Malang-Surabaya Salam Satu Jiwa Arema, Salam Satu Nyali Wani. Seduluran salawase.”
Menutup keterangannya, Bambang menyatakan bahwa pihaknya tetap berkomitmen mengawal keadilan bagi keluarga korban Tragedi Kanjuruhan, termasuk memantau proses persidangan di Surabaya. “Untuk masalah usut tuntas, insyaallah kita cuma bisanya mengawal. Mengawal keluarga korban dan doakan para korban. Itu saja. Insyaallah kita tetap di belakang mereka. Seperti lapor sidang di Surabaya.”
Penulis: Fenita Salsabila
Editor: Mohammad Rafi Azzamy
