SUARAKAN PROTES ATAS REPRESIFITAS APARAT, MASSA AKSI DI MALANG GELAR SOLIDARITAS UNTUK ARIANTO TAWAKAL

0
Fotografer: Aurelia Calista

MALANG-KAV.10 Hujan mengguyur kawasan Kayutangan, Kota Malang pada Senin (23/2) sore itu. Di sana, sejumlah massa tampak membentangkan banner. Mereka menggelar sebuah aksi solidaritas untuk mendiang Arianto Tawakal, seorang remaja yang tewas akibat kekerasan aparat. Aksi tersebut digelar sebagai bentuk protes atas represifitas yang dilakukan oleh aparat kepada masyarakat, sekaligus menjadi simbol kekecewaan massa terhadap kinerja aparat. “Baik pemerintah maupun pihak kepolisian lagi-lagi membuat kita kecewa, kecewa, dan kecewa,” ungkap seorang orator di depan massa aksi.

Aksi ini membawa empat poin tuntutan. Keempat poin tersebut adalah: menuntut agar pelaku diadili, memberikan perlindungan dan pemulihan keluarga korban tanpa mengurangi sanksi, evaluasi total kinerja dan anggaran aparat pertahanan dan keamanan negara, serta menghentikan praktik negara teror. “Peristiwa yang menimpa saudara kami bukanlah sebuah kebetulan. Itu menunjukkan pola sistemik yang memungkinkan praktik kekerasan terus terjadi. Institusi kepolisian telah lama menjadi alat negara yang arogan disebabkan oleh kultur kekerasan dan impunitas yang terus dipelihara,” ujar orator menegaskan represifitas aparat yang menewaskan Arianto.

Kahfi, Humas Komite Aksi Solidaritas untuk Arianto Tawakal, menyebutkan bahwa pemerintah sebelumnya tidak pernah benar-benar serius dalam memperbaiki Polri (Kepolisian Negara Republik Indonesia). Hingga saat ini, menurutnya, pemerintah masih melanggengkan impunitas yang dilakukan oleh aparat kepolisian. “Kita menjadi negara teror seperti Amerika dan Israel. Bedanya, [teror] tersebut ditujukan pada warganya sendiri,” ujarnya. 

Kendati demikian, Kahfi masih percaya bahwa reformasi Polri masih perlu untuk diwujudkan. Menurutnya, alat negara seperti Polri memerlukan reformasi agar fungsinya sebagai duty bearer dapat terlaksana. “Polri harus dikembalikan untuk melindungi masyarakat. [Untuk itu], reformasi yang dilakukan harus benar-benar dari akarnya, mulai dari pendidikan, rekrutmen, dan meritokrasinya,” jelas Kahfi.

Kahfi juga menjelaskan apabila tuntutan yang diberikan tidak terpenuhi, maka masyarakat akan terus mengawasi dan mendorong pemerintah negara ini untuk bekerja dengan benar. “Aksi perlawanan seperti halnya hari ini akan terus terjadi,” sambungnya.

Menjelang petang, massa aksi terus meneriakkan “reformasi polisi” secara berulang. Salah seorang orator menyebutkan bahwa kepolisian sudah tidak bisa diandalkan lagi akibat perilaku mereka yang kerap kali tidak mengimplementasikan nilai dari hak asasi manusia. “Nyatanya mereka sendiri telah melanggar hal yang mereka buat sendiri. Maka dari situ saya simpulkan: saat ini [kita] sudah tidak bisa lagi mengandalkan polisi,” teriak orator tersebut menanggapi hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap aparat akibat pengabaian prinsip hak asasi manusia yang mereka lakukan.

Penulis: Aurelia Calista Fathimah Azzahra (anggota magang)
Editor: Muhammad Tajul Asrori

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.