SANG HARPY, KELINCI, DAN ANJING PEMBURU

She can’t keep them all safe
They will die and be afraid
Mother, tell me, so I say (mother, tell me, so I say)
Harpy Hare, where have you buried all your children?
Tell me, so I say
– Harpy Hare, Yaeklore
****
Sang wanita bersusah payah menyeret kakinya yang tidak sanggup lagi untuk melangkah. Tubuh gemulai itu gemetaran, tidak seanggun dan sekuat yang orang-orang bisikkan. Rambut hijau ketuaan yang biasanya bersinar terpantul sang mentari, kini layaknya benang yang tidak bisa terurai kembali. Dia tidak peduli sebab kini ia hanya sendiri, menyusuri jalanan mayat yang terisi oleh kaumnya yang dinyatakan mati. Setiap darah yang menyentuh telapak kaki itu tidak lagi membuatnya terkesiap seperti berhari-hari yang lalu. Dia tidak lagi takut oleh bisikan arwah-arwah yang menolak realita bahwa mereka tidak lagi ada. Dia tidak lagi memperdulikan tangan-tangan tak kasat mata yang berebutan berusaha meraih tubuh ringkihnya.
Sang wanita hanya tetap ingin berjalan, berusaha menemukan cahaya di tengah hamparan kegelapan sebab di buaiannya ada seorang makhluk yang harus ia jaga. Hanya tawa bayi kecil itu, serta rengekkan yang terkadang muncul yang membuat ia terus berusaha untuk menarik napas di antara udara yang kian terbatas. Ia teringat ibu Harpy yang suka menyembunyikan anak-anak mereka di lubang kelinci dan sama sekali tidak membiarkan sapaan purnama menyentuh kulit mereka. Ia pun berbuat serupa, menyembunyikan sang putri dari ketakutan membahana. Dia hanya berhenti sesekali, bersembunyi di antara tubuh yang pernah dikenalnya saat para pembantai itu datang kembali untuk mengoleksi tubuh-tubuh yang sekiranya layak lantas pergi dengan tawa membahana. Setiap kali itu terjadi, dia hanya bisa diam, menatap dari kejauhan sambil memanjatkan doa pada siapa saja yang mendengar, tolong selamatkan kami.
Dia terkadang menetap lebih lama di antara tubuh teman-temannya, berusaha meraih setiap kehangatan yang tersisa. Meski setiap kali ia melakukannya, teriakan malam itu menghantam brutal indra pendengaran. Suara teriakan-teriakan yang tidak mampu didengarkan, suara tebasan demi tebasan tampak tidak dapat dihindarkan, serta suara para pembantai dengan anjing-anjing pemburu mereka yang menjilat kelaparan. Malam itu, sang wanita hanya mampu meringkuk, berusaha membuat diri gemulai itu sekecil mungkin sambil membungkam tangis sang bayi.
Bukan semalaman lagi hal itu terjadi, namun berhari-hari. Saat ia kembali pada alam dunia, yang tampak di kornea itu adalah tubuh yang tidak lagi bersuara, dan sejak itu dia tahu, bahwa kaumnya, yang dibisikkan sebagai yang tertua dan terkuat, pelindung bagi dunia, tidak apa-apanya di tangan para pembantai. Layaknya tikus dan kucing, mereka hanya bahan buruan.
“Elaeis?” suara bariton itu memanggil namanya, membuat sang wanita mendongakkan kepala. Dia tercekat, tertegun saat menyadari bahwa dia siapa.
Alih-alih berbicara lagi, sang pria justru mengulurkan tangan dengan senyuman terjanggal yang pernah Elaeis rasakan. Jantung itu seakan berhenti berdetak. Dia tidak akan pernah melupakan wangi ini, dia tidak akan pernah melupakan suara bariton yang biasanya beradu suara dengan makhluk yang enggan tunduk padanya. Elaeis tidak pernah lupa, bahwa pria itu yang pertama.
Inilah mengapa dia dan bayinya adalah satu-satunya yang tersisa dari kaumnya? Apakah dia alasan mengapa ia tetap bernapas diantara kematian? Seberapa besarkah cinta itu hingga membuatnya buta? Elaeis tidak pernah tahu jawabannya.
“Aku tidak membutuhkan yang lain, aku membutuhkanmu.”
Kata-kata itu mendayu benak terdalam Elaeis. Kalimat yang seolah menyatakan secara gamblang, mengapa ia dibiarkan hidup sendirian. Mata hitam itu tidak lagi dipenuhi duka, tapi berganti dengan bara baru yang seolah menolak untuk disudutkan. Tangan Elaeis terjulur, dan perlahan ia menerima genggaman tangan pria itu.
Sekali lagi.
Sekali lagi ia melakukan ini.
“… All the arrows that you’ve stolen. Split in half, now burn and broken. Like your heart that was eager to be hid.”
****
Hidup Elaeis benar-benar berubah. Dia tidak lagi dikelilingi oleh tubuh-tubuh fana, tapi dia kini dikelilingi oleh kehangatan yang dipaksa sama. Rumah baru … ah, mungkin lebih layak disebut lingkungan baru sebab Elaeis belum mau menganggap tempat itu sebagai rumah. Pria itu telah menepati janjinya, dengan memberikan Elaeis perlindungan dengan harga yang harus dibayarkan. Bayinya tumbuh menjadi perempuan yang sehat dan cantik dibawah perawatan saksama sang wanita. Dia tidak membiarkan siapapun menyentuhnya, bahkan pria itu, sekalipun dia memaksa.
Elaeis tidak membiarkan sang putri berkeliaran sendirian. Dia seolah menyimpan anak yang ia beri nama Guineen itu dalam lubang kelinci sehingga cahaya sekalipun tidak mampu meraihnya. Guineen, yang masih kecil, tidak mampu untuk memprotes sebab mata hitam Elaeis mampu menjelaskan segalanya. Dia hanya mampu terdiam di lubang kelinci tatkala Elaeis dan pria itu menghabiskan waktu bersama.
Roh-roh angin dengan jahil menghantam wajah Guineen, dan anak itu justru tertawa. Kaki-kaki kecilnya berusaha mengimbangi kecepatan roh yang terkenal jahil tiada duanya itu. Sang wanita mengawasi dengan saksama saat sang putri bermain-main dengan para roh angin meskipun kabar yang mereka bawakan lebih mengusik daripada biasanya.
“Para penduduk di Timur sana digilas habis.”
“Para pembantai itu telah kembali.”
“… tidak ada satupun dari para penduduk itu yang tersisa. Tubuh-tubuh mereka dijual, dan para anak-anak dibawa paksa!”
“… Mereka menghanguskan semuanya. Benar-benar biadap! Ini sudah sekian tempat mereka bumihanguskan”
“Para anjing itu? Mereka mengendus dan menjilat seperti biasanya. Tapi kali ini ereka tampak lebih menggila.”
Para roh angin membawakan berita meski berbungkus sebagai gosip ke seluruh penjuru arah. Tampaknya, para pembantai itu entah keberapa kalinya, telah membumihanguskan perkampungan lain. Ciri khas mereka tidak pernah berubah. Pertama, mereka akan membantai seluruh perkampungan dengan pedang-pedang bergerigi, lantas mereka akan memotong-motong bagian tubuh para penduduk kemudian menjualnya dan membuang para wanita yang tidak cantik, para lelaki yang cacat dan para tetua yang keras kepala. Setelah memastikan bahwa mayat-mayat itu tergeletak tidak berdaya, mereka menyulut api dan membiarkan sang bara yang membereskan sisanya.
Hanya perkampungan ini yang tidak pernah para pembantai itu sentuh, sebab pria itu, terlalu mencintai penduduk di sini. Mereka justru tertawa, mengolok-olok seolah mereka yang kini berada dalam puncak tahta. Sebab mereka tahu, selagi sang pria masih hidup, maka tidak ada seorang pun yang dapat menyentuh miliknya. Seperti penduduk perkampungan ini. Seperti para anak-anak yang dibungkus realita fana. Dan seperti Elaeis.
“Ibu, apa yang dikatakan oleh para roh angin itu benar ya?” dengan polos, si kecil Guineen bertanya. Elaeis hanya bisa menggelengkan kepala, sambil mengarang kebohongan lainnya agar sang putri mampu terpedaya.
“Tidak sayang, kau tahu, mereka hanya bergosip seperti biasanya.” Elaeis berkata. Guineen mengangguk kecil, mempercayai sang ibu sebab Elaeis sendiri mengajari bahwa dia tidak boleh mempercayai siapapun. Dunia ini terlalu dipenuhi orang-orang dan para monster jahat yang menunggu untuk menerkam para makhluk yang lengah.
Elaeis tersenyum, lantas mengelus rambut kehijauan sang putri. Dia puas menyimpan Guineen dalam kegelapan, dia puas tidak membiarkan Guineen terbang dari sangkarnya, sebab hanya sang putri yang dimilikinya. Guineen tertawa kecil saat Elaeis mengelus rambutnya, dia tidak menolak, malah merilekskan diri dipelukan sang ibu.
Dia tidak peduli lagi dengan dunia yang sedang porak-poranda, tidak pula dengan para pembantai yang kian menggila. Biarkan saja anjing-anjing itu menjilat dan menyalak, asalkan putrinya tetap berada dalam sayap tak terelak. Elaeis tahu bahwa mempercayai sang pria adalah hal terbodoh yang pernah dia lakukan, sayangnya, dia mengulanginya kembali. Tapi dia melakukan ini demi jelita kecil yang telah menjadi pusat dari dunia sang wanita. Maka dari itu, dia tidak lagi iba pada nasib para penduduk sana, serta berusaha tertawa seperti mimik wajah yang dilakukan oleh penduduk tanpa belas asa.
“Elaeis.”
Suara itu lagi. Saat kepala Elaeis kembali mendongak, senyuman di wajah sang jelita menghilang saat matanya beradu pandang dengan sang jantan. Dia tahu apa yang dia inginkan, jadi tidak perlu dijelaskan dua kali. Elaeis mengangguk, kemudian dia menyuruh Guineen untuk kembali ke lubang kelinci sementara ia sendiri melayani sang pria.
Forest walls and starry ceilings
Barren curtains that you’re weaving
Like the stories that you keep inside your head
****
Suara nyalakkan anjing merenggut paksa Elaeis dari tidurnya. Semakin ia mengumpulkan kesadaran, semakin ia menyadari bahwa suara itu tidak sendirian. Teriakan-teriakan lain menyusul, saling bersahut-sahutan dan iringan telapak kaki terdengar mendesak melewati perkampungan. Elaeis tertegun, saat dia melihat para pembantai berlarian menuju ke perkampungan. Apa yang terjadi? Mengapa sang pria membiarkan para pembantai melewati batas perkampungan? Dimana dia? Dan yang terpenting … mana perlindungan yang dijanjikan untuknya?
Dengan tergesa, Elaeis membangunkan Guineen. Anak itu protes sejenak, masih nyaman dibawah dekapan rembulan. Namun Elaeis tidak mendengarkan penolakan, dia mengguncang Guineen semakin kencang.
“Guineen! Bangun!” Elaeis berseru. Guineen bangun diteriakan yang ketiga. Dengan mata yang masih terlelap, dia menatap sang ibu.
“Ibu ada apa-“
Belum usai sudah kalimatnya, suara teriakan para pembantai terdengar semakin menggila. Tawa khas membahana yang sudah menjadi ciri khas mereka, terdengar begitu dekat. Sang jelita kecil itu sontak gemetar ketakutan, sementara Elaeis tertegun. Kenangan malam itu terputar paksa dalam benaknya. Gambaran mayat-mayat teman-temannya bergelimpangan serta gambaran bagaimana para pembantai memutus tubuh para makhkuk yang dibunuhnya, lantas bagaimana kaki-kakinya terpaksa berjalan diatas darah yang pernah memeliharanya. Elaeis sempat bertanya-tanya, apakah mala mini akan berakhir sama?
“Gas air mata, persiapan!” teriakan seorang pembantai begitu nyaring, berulang, sehingga Elaeis tidak tahu suara tersebut berasal dari arah mana. Kemudian tetesan air yang nyaris membentuk kabut, mulai memenuhi perkampungan. Guineen terbatuk-batuk, dan tubuhnya tanpa sadar meringkik kesakitan. Lantas sang wanita sadar, bahwa itu bukan air biasa, bukan berkah dari Tuhan yang patut disyukuri, namun berkat perbuatan manusia yang harus diadili.
Teriakan-teriakan panik lain terdengar. Kali ini lebih lemah, lebih renta. Tidak, ini bukan teriakan milik para pembantai. Tapi ini teriakan milik para penyintas. Kaum yang dipenuhi manusia yang memiliki sebagian hati malaikat. Kaum yang sering berpindah-pindah, dan sering kali berbentrok dengan para pembantai sebab mereka membela dan melindung penduduk yang tidak berdaya.
Tapi apa mampu mereka? Para penyintas tidak diciptakan kuat sebab mereka memiliki hati rentan, dan telah ditugaskan untuk tidak bisa melawan dari Tuhan untuk memelihara kesucian. Fisik mereka jauh lebih lemah daripada para pembantai. Berbeda dengan para pembantai itu yang telah dipenuhi napsu dan terlalu keras kepala untuk mendengarkan.
“Ibu!” teriakan Guineen terdengar ditengah rasa sakitnya. Elaeis melihat ke arah depan, tampak seorang penyintas tersungkur lemah. Tubuhnya dipenuhi lumpur dan keringat, serta matanya memerah, menahan rasa sakit yang berusaha untuk mendera.
Demi Tuhan … penyintas ini … dia adalah salah satu dari sekian penyintas yang mampir ke perkampungannya yang dulu. Dia selalu membawakan air untuk anak-anak, dan bercerita tentang petualangannya. Tangan penyintas itu dengan gemetar meraih tubuh Elaeis, begitu renta. Tidak kokoh seperti yang pernah dirasakannya.
“Tolong … tolong aku …” penyintas itu memohon. Elaeis terdiam kaku. Selama ini … dia berusaha mengabaikan semuanya. Mengabaikan bencana yang terjadi pada teman-temannya sebab para pembantai, mengapa ia perlu repot-repot menolong penyintas renta ini? Tapi hati Elaeis entah bagaimana tergerak. Kebaikan yang pernah penyintas ini lakukan, semua air dan cerita-cerita itu.
“Kemarilah!” Elaeis berkata, mencondongkan tubuhnya sedikit agar penyintas itu dapat bersembunyi di belakang tubuh kokoh namun gemulai miliknya.
“Terima kasih-“
Dalam sekejap, binar kebahagiaan dari manik mata legam itu padam. Tubuh penyintas itu tersungkur begitu saja seolah dia tidak memiliki nyawa. Darah menciprat ke wajah Elaeis dan Guineen, membuat sang gadis kecil memekik. Di depan sana, seorang pembantai tersenyum puas sambil menurunkan senapannya. Suara tersebut bukan terakhir, melainkan disusul suara-suara senapan yang bersusulan dikosongkan.
“Akhirnya mati juga.” Sang pembantai berkata, menatap tubuh penyintas itu dengan jijik. “Mereka menyusahkan sekali. Melawan menggunakan batu-batu, betapa konyolnya.”
“Benar! Mereka kira karena sang pria tidak memperbolehkan kita menyentuh perkampungan ini dia kira dia bisa selamat?” penyintas lain tersenyum lebar. Mereka tertawa sekali lagi, tawa membahana sialan itu.
Elaeis untuk pertama kali setelah sekian lama, gemetar. Rambut-rambut hijaunya rontok karena guncangan yang teramat hebat. Guineen merengek ketakutan, tapi tidak bisa mendekat ke sisi sang ibu sebab dia sendiri terlalu takut untuk sekedar bergerak. Kemudian para pembantai itu mengarahkan senapannya lagi, kali ini ke arah belakang Guineen. Elaeis segera tersentak, lantas berteriak,
“Jangan berani kalian sentuh putriku!” jeritannya seolah tidak didengarkan. Seorang pembantai justru mengangkat pedangnya dan menebas tubuh muda Guineen menjadi dua. Mudah saja, sebab Guineen masih terhitung muda dan tidak susah untuk menebas batangnya. Guineen rubuh, disusul dengan suara senapan dan suara tubuh yang ambruk tidak berdaya ke tanah yang kini bersimbah darah.
“Bagus! Sawit muda itu menghalangi saja!” sang pembantai menurunkan senapannya.
Biadap!
Elaeis tidak tahan lagi. Semua pembalasan dendam, semua amarah dan rasa sakit seakan kembali merasuki dirinya secara bertubi-tubi. Sang wanita itu tidak lagi ingin memendam, dia sudah muak untuk menyembunyikan. Dengan sekuat tenaga, Elaies memberontak keluar dari tanah yang telah mengikatnya. Rasa sakit luar biasa tidak menghentikannya, sebab ia tidak sepadan dengan rasa sakit dari tubuh Guineen karena tebasan pedang bergerigi itu.
Ini bukan hanya untuk Guineen, tapi juga untuk teman-temannya diperkampuangan dulu, Meranti, Jati, Ulin, Akasia, Mahoni, Sengon … ini adalah permintaan maaf karena tidak bisa menolong mereka. Ini juga untuk penduduk perkampungan lain yang telah ia abaikan jeritan rasa sakitnya. Elaeis tahu bahwa tindakannya tidak sepadan sebab hanya mampu menumbangkan dua orang. Tapi setidaknya, dia dapat membalaskan kematian dengan kematian. Juga untuk melihat tatapan tidak percaya dari sang pria, dan dengan ini, dia telah terbebas dari belenggunya.
Tubuh gemulai namun kokoh itu perlahan roboh. Para pembantai itu tidak memiliki waktu untuk merespon karena semua terjadi secara tiba-tiba. Tubuh Elaeis menimpa kepala para pembantai itu. Dia tidak merasakan rasa sakit, biarlah kematian merenggut dirinya agar Guineen dapat berlari memeluknya.
She can’t keep them all caged
They’ll be far and fly away
Mother, tell me you will stay
We’ll be far and fly away.
Penulis: Aisyah Aprilia Syofi
