DILEMA SLOT DOMPET YANG TAK TERISI, MENANTI KEPASTIAN KTM
Sumber: fia.ub.ac.id
MALANG–KAV.10 Jarum-jarum di dinding itu terus bergerak saling mengikuti. Ketika keduanya tepat dalam satu garis sama pada angka lima, warna merah merekah pada garis pandang cakrawala. Sayang, tak bisa itu tembus pada dingin tembok biru sukma yang tengah menatap lain sinar. Sebilah layar menyala menampakkan manusia sang lawan berbicara. Di seberang sana, Fian namanya. Mahasiswa Sastra Inggris Universitas Brawijaya (UB) angkatan 2023 yang menunggu Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) ibarat langit mendung yang tak kunjung hujan.
Ketidakpastian yang tak berujung itu bermula sekitar Oktober atau November 2023, saat gawai milik Fian menunjukkan sebuah pemberitahuan penting. Pesan tersebut berisi arahan bagi mahasiswa untuk segera melakukan registrasi KTM melalui situs Sistem Informasi Akademik Mahasiswa (SIAM).
“Kalau enggak salah waktu itu ada arahan untuk registrasi di SIAM. Mungkin Oktober atau November di 2023 gitu,” jelas Fian dengan dahi mengerut pada Jumat (23/1).
Merasa ada yang tidak beres karena KTM-nya tak kunjung tiba, Fian berinisiatif melakukan follow-up melalui jalur advokasi BEM saat ia masih berstatus mahasiswa baru. Namun, usahanya mencari kejelasan membuahkan hasil nihil. Pihak BEM hanya memintanya untuk terus menunggu sembari menjelaskan bahwa mayoritas mahasiswa yang sudah mendapatkan kartu fisik memang berasal dari bank yang berbeda dengan pilihannya.
Kondisi serupa Fian dapati saat mendatangi langsung meja resepsionis di fakultasnya. Lagi-lagi, ia harus pulang dengan tangan kosong dan hanya diminta untuk kembali bersabar lantaran pihak kampus menyatakan kartu identitas miliknya memang belum jadi.
Ia juga mengaku bahwa bank yang dipilihnya saat ini bukanlah tujuan awal. Hal itu terpaksa dilakukan karena kuota pendaftaran pada bank rencana semula sudah tidak lagi tersedia. “Kebetulan waktu itu kan rencananya mau di Bank Central Asia (BCA), cuman waktu mau ngisi itu [formulir] slotnya sudah habis. Akhirnya, aku pilih di Bank Nasional Indonesia (BNI).”
Kekecewaan yang dirasakan oleh Fian didukung oleh raut wajahnya yang tampak pias. Walaupun belum merasa “butuh”, lelaki itu tak bisa menampik kekhawatirannya di masa mendatang perihal absennya KTM di dompetnya.
“Ada momen juga di mana aku ngerasa kalau misalnya perlu untuk bikin KTM fisik buat keperluan sempro (seminar proposal) atau semhas (seminar hasil). Nah, di situ aku baru nyadar kayaknya perlu gitu.”
Pernah suatu kali, matanya berbinar saat melihat tawaran potongan harga khusus mahasiswa. Namun, binar tersebut seketika redup karena ketiadaan bukti konkret untuk ditunjukkan. Gelar mahasiswa boleh saja ia sandang, tetapi tanpa wujud fisik KTM di tangan, statusnya seolah tak punya kuasa untuk membuka pintu privilege yang ada. Alhasil, ia hanya bisa menelan kekecewaan bulat-bulat.
“Beberapa kafe atau tempat makan kan ada yang nyediain promo potongan khusus pelajar atau mahasiswa dengan nunjukin KTM. Jadi, ketika aku tunjukin screenshot atau misalnya e-KTM, mereka enggak bisa nerima. Itu sih paling yang kayak ‘aduh, kalau gitu nyetak KTM!’ gitu,” jelasnya dengan tawa kecil ketika mengingat kejadian yang telah berlalu itu.
Pasrah dalam Penantian yang Tak Berujung
Berada dalam gerbong kegelisahan yang serupa, May—Mahasiswa Sastra Inggris 2023, juga digantung perasaan oleh bank yang sama. Tak kunjung pula ditemui namanya dalam senarai penerima KTM. Waktu pun terus bergulir menjejakkan hampa pada slot dompet yang tak kunjung terisi oleh KTM.
Ia menjelaskan bahwa prosedur pengambilan KTM mengikuti daftar nama yang dirilis oleh pihak bank. Namun, hingga memasuki semester empat, namanya tak pernah muncul dalam daftar tersebut. “Waktu itu aku nunggu sampai semester 4. Enggak ada namaku sama sekali,” tutur May pada hari Minggu (25/1).
May juga pernah mendatangi Pusat Layanan Terpadu (PLT) untuk meminta kejelasan. “Waktu itu udah konfirmasi ke bagian PLT yang di ruang rektorat. Terus waktu ditanyain, katanya PLT di situ bisa pengambilan buat kartu bank mandiri, jadi enggak ada BNI. Terakhir kali itu,” ujarnya dengan mata bergerak ke kanan lalu ke kiri; mencoba mengingat masa lalu.
Ia pun tak mau berlarut-larut dalam kekecewaan yang tak berarti. Perempuan berkuncir kuda itu kemudian membalut hati dengan suatu keyakinan yang merambati diri. “Jadinya, lama-kelamaan itu aku mikir kayak KTM itu mungkin enggak terlalu penting, ya,” terangnya.
Meski langkahnya tak pernah terganjal akibat absennya KTM fisik dan cenderung skeptis, sekelebat cerita masa lalu kembali memasuki pikirannya. Ia pun mengingat kepingan kecil pengalaman sang teman yang sempat tersandung syarat administrasi. “Ada sih temanku enggak jadi pinjam fasilitas di fakultas karena diharuskan pakai KTM,” papar May.
FOMO dan Minimnya Sosialisasi
Di sisi lain, dengan gestur tubuh yang sedikit bersemangat, Namira—mahasiswa Hubungan Internasional 2023 yang menggantungkan butuh pada Muamalat, mencurahkan keinginan kecilnya yang tak dapat terwujud. “Awalnya kayak yaudah, lah. Cuman aku Fear of Missing Out (FOMO) nih, ‘orang-orang kok dapet KTM?’. Pingin juga dapat KTM,” ungkapnya pada Senin (19/2) dengan wajah polos.
Bagi Namira, memiliki KTM fisik merupakan sebuah privilege tersendiri. Kartu fisik dirasa jauh lebih praktis dibandingkan harus repot mengakses aplikasi Gapura yang menuntut proses login terlebih dahulu—sebuah prosedur yang menurutnya memakan waktu lama.
Menariknya, KTM fisik rupanya menjadi sesuatu yang paling dinanti oleh ibu Namira, bahkan dengan antusiasme yang melampaui putrinya sendiri. Ibunya, yang berbekal memori masa muda, terus memperingatkan gadis itu terkait saktinya selembar kartu tersebut. Sebuah wejangan yang dapat dibalasnya dengan helaan napas panjang, sembari memberikan penjelasan bahwa zaman telah berubah.
“Jadi, mama aku tuh tipikal yang nanyain mulu gitu, ‘Mana KTM-nya? Itu penting, loh’. Padahal, aku udah jelasin. Bisa kok kalau pakai e-KTM,” jelasnya sembari mengulas senyum.
Lebih lanjut, Namira beranggapan bahwa pihak kampus harusnya lebih gencar dalam memberikan informasi. “Sosialisasinya harus detail. Lebih luas gitu, loh. Entah mungkin di snapgram, postingan Instagram, atau broadcast. Jadi, lebih tahu kita juga biasanya nyari info dari media sosial, kan,” jelas Namira panjang lebar.
Namun, di balik rasa inginnya, Namira secara blak-blakan merasa “malas” melakukan tindak lanjut akibat kondisi yang buta arah. Rasa enggan ini muncul sebagai bentuk keputusasaan karena ia tidak tahu harus memulai dari mana di tengah minimnya sosialisasi. “Pernah waktu itu dikasih saran sama temen buat coba tanya ke bank, terus aku jawablah ‘malas’ dan dia bilang lagi kalau misalnya bisa ke rektorat. Nah, aku enggak tahu prosedurnya gimana. Enggak ada sosialisasi. Jadi, bisa dibilang aku enggak follow up.”
Ketidakpastian KTM fisik membuat mereka merasa layaknya awak kapal yang terombang-ambing di tengah pusaran arus informasi yang tak keruan. Di tengah arus penantian ini, mereka sepakat bahwa pihak kampus seharusnya menjadi “nahkoda” yang memegang kompas kejelasan. Lalu, membawa mereka bersandar di daratan tenang, bukan membiarkan identitas mereka hanyut seakan tak pernah ada.
Penulis: Elvaretta Rahma Davina (anggota magang)
Editor: Fenita Salsabila
