DI BALIK KRITIK ‘MALING BERKEDOK GIZI’: KETUA BEM UGM DAN BAYANG-BAYANG TEROR YANG DIALAMINYA

0
Sumber: Screenshot dari Instagram @tiyoardianto

Keberanian menyuarakan kritik di negeri ini rupanya harus dibayar dengan harga yang mahal. Hal inilah yang dialami Tiyo Ardianto, Ketua BEM UGM (Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada) setelah lantang menyampaikan pandangannya terhadap MBG (Makan Bergizi Gratis). Belakangan ini, ia harus hidup dalam kepungan intimidasi. Namun bukan hanya Tiyo saja yang dibidik, sejumlah rekan sejawatnya di kepengurusan BEM UGM juga tak luput dari serangan serupa. Bahkan, teror ini telah melampaui batas dengan menyasar pihak keluarganya, yakni ibu Tiyo yang berada di desa.

Melihat kondisi yang semakin mengkhawatirkan ini, KIKA (Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik) pun bergerak. KIKA menilai rentetan teror yang dialami oleh Tiyo ini merupakan hantaman telak bagi kebebasan akademik, kebebasan berekspresi, dan keamanan sivitas akademika di Indonesia. Sebagai bentuk perlawanan dan dukungan moral, KIKA menggelar ruang diskusi publik sekaligus merilis pernyataan sikap pada Selasa sore (17/2). Melalui layar Zoom, Tiyo dan sejumlah narasumber lainnya membedah bagaimana praktik-praktik otoritarianisme mulai menyusup ke ranah paling pribadi mahasiswa hanya demi membungkam sebuah kritik.

Pada  Rabu (18/02), tepatnya sehari setelah diskusi publik tersebut, Tiyo Ardianto kembali membagikan detail kisahnya dalam sebuah wawancara yang dilakukan oleh Awak Kavling10 melalui Google Meet. 

“Maling Berkedok Gizi” dan Muslihat di Balik Anggaran

Bagi Tiyo bersama BEM UGM, kritik terhadap program MBG bukanlah sebuah letupan spontan yang tiba-tiba muncul. Jauh sebelum isu ini memuncak, tepatnya pada September tahun lalu, mereka sudah memberikan peringatan keras melalui aksi simbolik mengarak sapi di sekeliling kampus UGM. Sapi tersebut ditempeli foto wajah Presiden Prabowo di kepalanya.

“Sapi ini bukan simbol penghinaan karena hewan tidak lebih rendah dari manusia. Sapi justru adalah simbol dari hewan yang memberi nutrisi kepada anak Indonesia melalui daging dan susunya. Bukankah itu yang dicita-citakan Presiden Prabowo dengan program makan bergizi gratisnya? Jadi apa bedanya Presiden Prabowo dengan sapi?” ujar Tiyo.

Ia melanjutkan bahwa tugas utama presiden bukanlah sekadar memberi nutrisi, melainkan melaksanakan konstitusi. “Sayangnya, ambisi untuk memberi nutrisi itu justru melanggar konstitusi,” ujarnya merasa miris.

Aksi bulan September itu pun rupanya langsung “dibersihkan” dari ruang digital. Tiyo mencatat setidaknya ada tiga media besar—Detik, Kompas, dan Kumparan—yang mengunggah pemberitaan soal aksi tersebut, namun hilang dalam waktu kurang dari dua jam. “Bahasa saya itu kena operasi supaya kemudian tidak tereskalasikan menjadi sebuah isu publik,” ungkapnya.

Kritik Tiyo mencapai puncaknya ketika melihat Undang-Undang APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) 2026 disahkan. “Rp757 triliun anggaran pendidikan, sebanyak Rp223 triliun diklaim dan dipakai untuk MBG melalui badan baru bernama BGN (Badan Gizi Nasional),” ujar Tiyo. Baginya, ini adalah penyimpangan telak terhadap mandat konstitusi Pasal 31 ayat 3 terkait mandatory spending pendidikan.

“MBG ini bukan lagi layak untuk kita sebut sebagai Makan Bergizi Gratis. Bergizi saja tidak, apalagi gratis. Tapi lebih cocok kita sebut sebagai “Maling Berkedok Gizi”. Ini korupsi tersistematis yang terlegalkan,” tegasnya saat memakai pakaian bertuliskan serupa.

Tiyo berargumen bahwa sejak awal program MBG tidak berangkat dari keresahan tentang kualitas manusia dalam konteks pendidikannya, melainkan konteks kesehatan yaitu stunting. Ia menekankan bahwa meski pencegahan stunting adalah persoalan penting yang harus dilakukan, namun menjadi sangat keliru ketika anggarannya justru “merampok” anggaran pendidikan di saat persoalan pendidikan di Indonesia masih luar biasa banyak.

Kondisi ini, menurut Tiyo, sangat luar biasa menyakiti hati banyak orang. Terutama bagi mereka yang tidak bisa mengakses pendidikan tinggi karena tidak punya uang, lebih dari 2 juta guru honorer yang masih hidup prasejahtera, hingga puluhan ribu sekolah yang kondisinya hampir roboh.

“Maka ini persoalannya bukan lagi tentang prioritas anggaran, tetapi muslihat yang ada di baliknya,” pungkas Tiyo. 

Ia melihat ada motif politik jangka panjang yang tersembunyi di balik program ini. Setelah berjalan setahun lebih, Tiyo menilai MBG ternyata bukan untuk meningkatkan gizi anak-anak Indonesia, melainkan sebagai alat politik untuk kepentingan kekuasaan di masa depan. 

“Tetapi untuk memastikan bahwa 2029 Presiden Prabowo itu akan jadi Presiden lagi,” tambahnya. 

Kebuntuan dalam menyampaikan kritik di dalam negeri akhirnya mendorong BEM UGM mengambil langkah lanjutan dengan mengirimkan surat kepada United Nations Children’s Fund (UNICEF). Bagi Tiyo, kondisi Indonesia saat ini sudah mencapai titik di mana kemarahan kolektif 280 juta rakyat seharusnya meledak, namun tembok kekuasaan terlalu tebal untuk ditembus. Langkah internasional ini diambil karena Tiyo memandang rezim saat ini sudah menutup telinga terhadap akal sehat dan ilmu pengetahuan.

“Ketika ada satu momentum di mana rasanya 280 juta rakyat Indonesia harus marah, maka kita enggak memprotes siapapun, tapi kita berkirim surat ke UNICEF. Karena apa yang terjadi di Indonesia sejatinya bukan saja masalah domestik yang bisa diselesaikan hanya oleh domestiknya sendiri, tapi dia harus dibantu oleh warga dunia,” jelas Tiyo.

Rangkaian Teror Beruntun

Tak lama setelah kritiknya memicu perbincangan publik, bayang-bayang intimidasi mulai menghantui hidup Tiyo. Sejak 9 Februari 2026, ia menerima berbagai pesan dari nomor tak dikenal yang berisi ancaman penculikan hingga pembunuhan. Salah satu skema teror yang diterimanya bahkan tergolong agak lain—seseorang yang mengaku dosen dari sebuah universitas di Bandung menyebut dirinya mendapatkan bocoran dari mata-mata intelijen bahwa Tiyo akan “dioperasi” oleh intelijen untuk dibunuh.

“Jadi ada orang anonim mengaku dosen satu universitas di Bandung menyampaikan bahwa dia mendapatkan bocoran dari intelijen bahwa Tiyo, Ketua BEM UGM, akan dioperasi oleh intelijen pembunuhan,” ungkap Tiyo.

Tidak hanya ia saja yang mendapatkan teror, sekitar 30 pengurus BEM UGM lainnya pun tak luput dari serangan. Mereka dikirimi disinformasi yang menyebut bahwa Tiyo telah menggelapkan uang organisasi. 

Selain itu, ia juga dituding sedang menjalankan operasi politik karena beredarnya foto dirinya bersama Anies Baswedan. Namun, Tiyo dengan tegas meluruskan konteks di balik foto tersebut.

“Ada beberapa serangan karakter bahwa ini adalah operasi politiknya Anies Baswedan melalui saya karena ada foto saya bersama Anies Baswedan. Saya memang ketemu dengan Anies Baswedan di sebuah forum, tapi itu bukan forum politik. Itu forum kekeluargaan reuni alumni BEM. Dan Mas Anies memang alumni BEM,” jelasnya.

Alih-alih merasa ciut, ia justru melihat hal tersebut sebagai bahan bakar baru bagi gerakannya untuk terus maju.

“Syukur serangan karakter itu tidak berarti apa-apa. Teror itu juga tidak bermakna apa-apa, selain menumbuhkan kekuatan yang lebih besar. Prinsipnya semakin ditekan kita harus semakin melawan,” pungkas Tiyo dengan penuh keyakinan.

Lebih lanjut, Tiyo difitnah sebagai aktivis LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) hingga dituduh sering menyewa LC (Lady Companion) melalui foto-foto hasil rekayasa AI (Artificial Intelligence). Namun, bagi Tiyo, ada hal yang jauh lebih mengkhawatirkan daripada sekadar fitnah terhadap dirinya. 

“Yang saya catat di sini sebenarnya bukan soal disinformasi atau fitnahnya ya. Itu penting iya, tapi justru yang berbahaya lebih adalah keamanan digital kita sebagai rakyat Indonesia, kok ternyata sangat rentan,” terangnya.

Ia menambahkan, mereka yang bukan pengurus inti juga bukan pengurus harian turut mendapatkan disinformasi. “Itu [keamanan digital] yang justru jadi concern kami, ya. Kalau soal ini [fitnah] mah, siapa yang akan percaya, Bung? Saya masih stay di sini sebagai pimpinan BEM UGM,” tegasnya.

Teror yang dialami Tiyo bahkan telah melampaui batas dengan menyasar keluarganya di desa. Ibu Tiyo, seorang perempuan desa sederhana, menjadi target intimidasi melalui pesan-pesan fitnah yang menuduh anaknya telah menilep uang organisasi. Tidak hanya itu, telepon dari nomor-nomor ini masuk pada malam hari, dan menciptakan tekanan psikologis. 

“Kalau bicara soal perasaan, justru ibu saya selaku orang tua yang merupakan perempuan desa sederhana, juga bukan orang yang berpendidikan tinggi, mengatakan secara verbal dengan saya bahwa ibu takut,” ungkap Tiyo dengan nada yang prihatin.

Intimidasi terhadap Tiyo ternyata tidak berhenti di ruang digital, melainkan merembet ke dunia nyata dalam bentuk penguntitan. Ironisnya, peristiwa ini terjadi justru saat Tiyo sedang berada di kampung halamannya, Kudus, untuk bertemu dengan beberapa rekan mahasiswa.

Peristiwa yang terjadi sekitar tanggal 14 Februari atau pertengahan pekan tersebut menjadi catatan penting dalam rangkaian teror yang ia alami. Tiyo menceritakan bagaimana ruang geraknya diawasi secara langsung oleh orang-orang tak dikenal.

“Waktu itu saya sedang berkumpul dengan beberapa mahasiswa di Kudus. Jadi kebetulan ini malah di kampung halaman saya. Seorang rekan saya ini melihat bahwa ada dua orang muda berbadan tegap yang memfoto kami dari jauh. Seketika kami sadar, kami cek, dong. Tapi dua orang ini kemudian segera pergi,” kenangnya.

Tiyo mengaku ada sedikit jeda sebelum ia dan rekan-rekannya menyadari bahwa mereka sedang diawasi. Namun, kehadiran pria-pria misterius di kampung halamannya sendiri menjadi pengingat pahit bahwa ancaman itu nyata dan berjarak sangat dekat dengannya.

“Jadi kami [Tiyo dan rekan-rekannya], memang saya akui telat untuk sadar dan kemudian kejar. Tapi bahwa itu jadi peristiwa yang kami catat gitu dalam situasi teror tadi, ya,” tambahnya.

Alarm Demokrasi dan Paranoia Rezim

Bagi Tiyo, serangan personal dan fitnah yang ia terima bukanlah persoalan utamanya. Ia melihat rentetan peristiwa ini sebagai cerminan dari rusaknya sistem yang lebih besar.

“Menurut saya perasaan saya bukan isu utama ya, karena isu utamanya sebenarnya pada iklim demokrasi kita. Jadi, peristiwa-peristiwa ini menurut saya menjadi alarm betapa demokrasi kita itu sangat cacat. Kita harus catat itu. Bahwa demokrasi kita cacat. Buktinya apa? Ketika teror ini terjadi, pemerintah dan negara itu tidak hadir,” tegas Tiyo.

Ia juga menyoroti respons aneh dari pemerintah melalui Natalius Pigai yang tiba-tiba memberikan klarifikasi tanpa ada tuduhan sebelumnya. Bagi Tiyo, sikap ini justru menimbulkan tanda tanya besar.

“Pemerintah melalui Natalius Pigai [Menteri Hak Asasi Manusia] justru mengatakan pemerintah bukan pelaku teror ke ketua BEM UGM. Loh, sing pernah [yang pernah] nuduh bahwa pelaku teror yang ada pemerintah itu siapa? Bang Natalius Pigay. Kan kita enggak pernah nuduh dia. Kok malah dia paranoia dan kemudian mengklarifikasi. Bukankah itu justru jadi pertanyaan? Kok malah mereka panik, seolah-olah mereka adalah yang melakukan,” ujarnya.

Meski teror terus datang, Tiyo menyatakan tidak gentar sama sekali. Baginya, serangan ini adalah bukti bahwa kritiknya telah sampai ke telinga pihak-pihak yang tersinggung.

“Ya, saya pribadi kalau ditanya takut atau tidak, saya sama sekali tidak gentar. Takut apa lagi? Bagi saya justru teror ini adalah tanda betapa rezim hari ini atau siapapun yang tersinggung, terganggu atas kritik saya itu berarti kritik kita tersampaikan dengan baik. Tetapi tidak direspon dengan baik. Artinya kritik ini sudah sampai di mejanya mereka tapi sayang tidak direspon dengan baik,” jawabnya panjang lebar. 

Sikap dan Komitmen Kampus 

Di tengah ancaman tersebut, Tiyo mengapresiasi pimpinan UGM melalui juru bicara, Made Andi Arsana, yang menyatakan komitmen untuk melindungi mahasiswanya. Kampus memerintahkan Satuan Kantor Keamanan, Keselamatan Kerja, Kedaruratan, dan Lingkungan (K5L) untuk berkoordinasi intens guna menjaga keamanan mereka.

“Merekalah yang kemudian akan bertanggung jawab. Memang di UGM K5L ini kan cukup banyak pasukannya sehingga kalau ada hal-hal yang kalau tiba-tiba coba diculik atau apa, Insya Allah mereka bisa bergerak dengan cepat,” kata Tiyo. 

Tiyo berharap keberanian UGM dalam menjunjung kebebasan berekspresi bisa dicontoh oleh institusi pendidikan lainnya.

“Saya berharap berpesan juga kepada kampus-kampus di Indonesia yang lain itu juga punya komitmen yang sama. Sehingga mahasiswa-mahasiswa itu tidak takut untuk bicara,” ungkapnya.

Tiyo mengungkapkan sebuah kekhawatiran besar mengenai sunyinya kritik dari kalangan mahasiswa terhadap rezim saat ini. Bagi Tiyo, kondisi ini bukan berarti mahasiswa kehilangan daya kritisnya, melainkan karena adanya tembok ketakutan yang terbangun akibat sikap institusi pendidikan itu sendiri.

“Saya khawatir bahwa kesepian yang mungkin dialami oleh BEM UGM ketika menyampaikan kritiknya kepada rezim itu tidak terjadi karena mahasiswa ini enggak mau ngritik, tapi jangan-jangan mereka enggak berani. Dan kenapa mereka enggak berani? Karena sejak dari kampusnya saja represi itu sudah terasa. Dari apa? Dari ketidakjelasan sikap kampus terhadap kebebasan berekspresi,” paparnya.

Hingga saat ini, Tiyo mengakui bahwa teror yang ia terima justru semakin beragam dan meluas ke seluruh kanal media sosialnya.

“Sampai sekarang masih tapi kanalnya menjadi lebih beragam. Sebelumnya itu kan WhatsApp dan Instagram gitu, ya. Sekarang semua media sosial saya terkena teror. Ada yang ngirimin ancaman lah, makian, video-video yang tidak senonoh bahkan. Itu sudah tidak terhitung,” tutupnya.

Ketika ditanya mengenai sejauh mana dirinya siap menghadapi berbagai risiko yang akan datang, Tiyo menjawabnya dengan berapi-api. 

“Konsekuensi itu akan kita hadapi. Something that doesn’t kill you will make you stronger.”

Rentetan teror yang masuk bukanlah alasan untuk mundur baginya. Segala upaya pembungkaman itu justru menjadi bukti telak bahwa kritik “Maling Berkedok Gizi” telah menghujam jantung kekuasaan dan membuat mereka yang merasa terganggu kehilangan akal sehat. 

Penulis: Fenita Salsabila
Editor: Nabila Riezkha Dewi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.