Membuka Keadaan Mobilitas di Pameran “Kesana Kemari”

0

Objek Starling dalam pameran "Kesana Kemari"

MALANG-KAV.10 Beberapa hari ke depan, Ruang Pameran Fakultas Ilmu Budaya  (FIB) A akan dipenuhi dengan instalasi-instalasi seni dan fotografi. Kali ini, Senin  (4/3), mahasiswa antropologi angkatan 2021 yang menyelenggarakan sebuah pameran di ruangan itu selama empat hari ke depan. Pameran bertajuk “Kesana Kemari” ini terbuka untuk umum.

Dengan mengangkat “Kesana Kemari” sebagai tajuk pameran, mereka menunjukkan tentang mobilitas yang terjadi di lanskap perkotaan, dalam hal ini adalah Kota Malang. Menurut Nisrina, koordinator pameran, banyak objek-objek mobilisasi yang kurang tertangkap di perkotaan karena level mereka yang berada di menengah hingga menengah ke bawah. Hal inilah yang coba diungkap dalam pameran yang berdasarkan hasil riset etnografi yang mereka lakukan selama Agustus hingga Desember 2023.

Hasil riset ini berbentuk policy brief dan juga artikel yang divisualkan dalam pameran. Data-data yang diperoleh diubah menjadi berbagai media seperti instalasi seni, fotografi, hingga majalah tiga dimensi.

Masing-masing displai yang ada dalam pameran ini mencoba mengungkap apa yang sebenarnya terjadi di ruang mobilitas Kota Malang. Salah satunya adalah keberadaan starling (penjual kopi keliling, red.) yang secara birokrasi masih dinilai abu-abu. Nisrina menilai pemerintah bertanggung jawab atas kelompok-kelompok menengah ke bawah. Namun pada sisi yang lain, kelompok inilah yang akhirnya harus bertahan sendiri karena tidak adanya peraturan  tertulis yang bisa mendukung ekonomi dan kehidupan mereka.

Yayuk Windarti, salah satu dosen Antropologi yang juga hadir di pameran ini, berharap agar suara-suara kelompok marginal yang diangkat dalam pameran ini turut terdengar ke teman-teman mahasiswa. Ia pun melihat pameran ini sebagai media berbagi studi mahasiswa program studi antropologi ke mahasiswa program studi lain. “Melihat ada sisi-sisi yang perlu diperbaiki, harapannya tentu agar ini bisa menjadi input baru (untuk mahasiswa dan pemerintah, red.) untuk lebih baik lagi,” ujar Yayuk.

Kayla, salah satu pengunjung pameran ini, mengatakan mendapat banyak informasi terkait apa saja yang ada di Kota Malang yang sering luput dari perhatian. “Apa yang dianggap gak penting bisa jadi sebenarnya penting, kayak becak,” tuturnya.

Sejalan dengan hal tersebut, Nisrina mengungkap bahwa banyak seniman jalanan, angkot, dan bentor yang menjadi kelompok terlupakan oleh pemerintah di perkotaan. Kelompok tersebut berada di posisi antara masih diperlukan dan mulai tidak diperlukan. Lebih lanjut ia berharap agar pemerintah ikut serta dalam memberi kebijakan yang lebih berpihak pada kelompok ini. “Melibatkan (kelompok marjinal, red.) dalam pembuatan kebijakan, perwakilan suara-suaranya yang harus disuarakan,” pungkasnya.

Penulis: Badra D. Ahmad (anggota magang)
Editor: Dimas Candra Pradana
Kontributor: Mohammad Rafi Azzamy (anggota magang)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.