KALA NEW YORK SEBANDING DENGAN PULAU RUN

0

Penulis: Giles Milton
Penerjemah: Ida Rosdalina
Jumlah Halaman: 495
Halaman Penerbit: Alvabet

Indonesia telah dikenal sebagai salah satu penghasil rempah terbesar sejak zaman penjajahan dahulu. Komoditi rempah Indonesia yang beragam serta jatuhnya Konstantinopel ke tangan Ottoman menyebabkan pedagang-pedagang Eropa berbondong-bondong datang ke Indonesia untuk membeli rempah secara langsung. Ketersediaan rempah di Indonesia yang beragam memudahkan pedagang-pedagang Eropa untuk memperjualbelikan komoditas tersebut dan memperoleh keuntungan yang besar tanpa harus mengeluarkan modal yang besar dengan membeli di Konstantinopel seperti sebelumnya.

Pala merupakan salah satu komoditi yang paling diminati pada saat itu, akan tetapi asal rempah pala rupanya masih belum banyak diketahui. Pada saat itu, masyarakat Eropa percaya bahwa rempah-rempah yang menghasilkan aromaterapi dapat menyembuhkan wabah-wabah menular yang sedang marak, sehingga pala menjadi komoditas primadona incaran masyarakat Eropa. Hal ini pula yang menjadi awal dari persaingan sengit antara pedagang negara satu dengan pedagang negara lainnya.

Pulau Run, salah satu pulau yang berada di perairan Banda merupakan salah satu penghasil pala terbesar pada zamannya. Hal ini menyebabkan terjadinya persaingan antara koalisi dagang Belanda dan Inggris, koalisi dagang terbesar di Eropa pada masanya. Hubungan antara masyarakat dengan pihak koalisi dagang Belanda memanas akibat adanya peristiwa Pembantaian Amboyna pada 1623, belum lagi dengan rumor adanya kerjasama masyarakat dengan pihak Inggris memperburuk hubungan antar koalisi. Setelah melalui perselisihan sengit, maka terbentuklah Perjanjian Breda pada 1667 yang menyatakan bahwa Pulau Nieuw Netherland (sekarang Manhattan) ditukar dengan Pulau Run yang saat itu dikuasai oleh Inggris. Keadaan berubah seiring waktu dengan berkembangnya Manhattan menjadi pusat bisnis dunia, sedangkan Pulau Run yang awalnya dielu-elukan menjadi terlupakan.

Apa yang terjadi pada Pulau Run merupakan salah satu contoh dari keserakahan manusia akan sumber daya alam tanpa adanya pengembangan lebih lanjut. Niat Belanda yang hanya ingin menguasai sumber daya alam Pulau Run menyebabkan kondisi masyarakat tidak berkembang selayaknya apa yang terjadi di Manhattan. Ketamakan manusia akan sumber daya alam yang terus dikuras menyebabkan tidak adanya kemajuan dan perkembangan yang menunjukkan potensi positif untuk masa yang akan datang.

Giles Milton selaku penulis menggambarkan sejarah melalui lokasi-lokasi yang ada di Pulau Run. Fenomena yang disoroti cenderung berdasar pada sekumpulan peristiwa yang hanya terjadi di Pulau Run. Kepenulisan ini didasari pada dokumen-dokumen sejarah yang dominan berada di Belanda. Sayang sekali, untuk versi terjemahan terasa kurang enak untuk dibaca karena beberapa diksi tidak terlalu bisa menggambarkan naskah aslinya dengan baik, tetapi masih dapat dimaklumi. Karena hal ini, disarankan untuk membaca buku ini dalam versi aslinya jika hendak digunakan sebagai salah satu bahan dari penelitian.

Penulis: Aurora Kirana Renjani

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.