MALAM MINGGU BERSAMA PENTUNG

0

Malam Minggu. Malam dimana, jika cerah, orang-orang dari kalangan manapun pergi keluar kandang demi melepas penat, termasuk saya. Untungnya, Dewa Zeus berada di pihak saya semalam. Bintang-bintang mengerlip dan bulan penuh menerangi malam Minggu saya yang sangat beruntung.

Malam Minggu saya kali ini, tepatnya 10 Desember 2022, dimeriahkan dengan menonton hiburan, mengobrol dengan teman-teman, menggandeng pacar, dan bahkan mengerjakan tugas sebagai awak Kavling. Agenda utama saya malam itu seru sekali: menonton Pentas Tunggal Teater Lingkar FIB UB di Gedung Kebudayaan Malang. Apalagi pementasan dramanya menarik hati saya. Judulnya saja Dhemit. Saya pikir, pasti venue sudah diatur menjadi seram. Ditambah lagi, saya datang ke Gedung Kesenian Gajayana sesaat setelah matahari tenggelam, berduaan, dengan perut yang penuh oleh makanan mewahnya anak kos. Lengkap sekali, bukan?

Saya pun beranjak ke meja ticketing, yang uniknya, sangat kotor. Di depan meja ticketing, dedaunan dibiarkan berserakan, yang saya kira secara sengaja. Di sebelah kiri, saya melihat kuburan. Bukan kuburan siapa-siapa, untungnya, karena batu nisan saat itu dijadikan properti untuk menyambut para penonton di meja ticketing dengan suasana yang horror. Dari sini, agenda menonton pertunjukan teater sudah menjadi sangat spesial bagi saya. Selain karena konsep yang keren, teman-teman saya yang sangat keren pula menghelat acara malam ini, dan saya datang untuk mengapresiasi mereka.

Setelah menunggu teman-teman saya datang untuk menonton bersama, dan diberi tahu oleh teman saya yang merupakan panitia di bagian ticketing untuk masuk ke venue, dan diantar oleh teman saya lainnya yang juga panitia masuk dari pintu ke kursi undangan, saya pun sampai di depan panggung. Kami, para penonton, disambut dengan playlist horror untuk membangun suasana yang bikin merinding. Terbayang sudah bagaimana feel intens yang bakal membuat bulu kuduk saya berdiri dari tempat duduk saya yang paling depan (tetapi menguntungkan bagi saya untuk merekam live report untuk Kavling tercinta, hehe).

Teman aktor saya pernah memberi saya spoiler sedikit tentang Pentas Tunggal ini. Ada opening act. Saya makin excited ketika mendengar berita itu, karena berarti, akan ada dua pementasan malam ini. Penantian saya pun akhirnya terbayar ketika kedua MC membuka acara.

Penampilan pertama ternyata membahas sesuatu yang berbeda, bukan dhemit. Tuhan 9cm judulnya, karya Taufik Ismail. Ternyata, Tuhan yang ukurannya gak sampai satu meter di judul itu maksudnya adalah rokok. Pentas pembukaan, uniknya lagi, digelar di atas lantai, bukan di panggung utama. Faktor tersebut menjadi membuat para aktor lebih dekat dengan penonton, bahkan, sang narator sempat berinteraksi dengan penonton yang duduk di row depan. Mereka juga menggunakan seluruh venue dengan maksimal. Saya ingat, salah satu aktor yang berperan anak SMA berakting di jalan antara para penonton.

Pementasan ini membahas rokok, seperti yang saya sebut sebelumnya. Namun, penampilan ini membuat saya membuka pemikiran-pemikiran baru. Mereka membahas rokok melalui fatwa dan hukum yang berlaku di negara ini. Mengingat tanah air kita kaya akan tembakau, efek rokok tidak hanya berhenti di perokok. Pentas ini menampar saya berkali-kali dengan fakta bahwa banyak orang yang dirugikan oleh asap rokok. Terima kasih Tuhan 9cm.

Di sela-sela kedua pementasan, MC mengadakan sesi kuis. Sesi kuis saya rasa sangat ramai karena penonton diimingi oleh sekeping emas yang menjadi salah satu hadiah kuis malam itu. Sayangnya, saya tidak sempat menjawab pertanyaan yang menggiurkan itu karena sibuk dengan handphone saya yang hampir mati. Tentu panik, karena saya masih perlu merekam untuk menyetor live report. Tetapi untungnya saya punya banyak teman yang duduk di belakang.

Duduk di bangku paling dekat dengan pintu masuk ternyata tidak jauh menguntungkan dengan duduk di depan panggung. Orang-orang yang berdiri di panggung masih terlihat jelas sempurna. Rasanya seperti menonton layar bioskop. Saya pun tidak perlu mengkhawatirkan live report tidak terlihat jika ditonton dari jauh di belakang. 

Setelah kuis berakhir, penantian saya dan penonton lainnya atas pementasan utama pun berakhir. Tirai dibuka untuk menampilkan set properti yang sangat khas dengan dhemit. Pohon besar yang sudah ditebas setengah, lengkap dengan daun-daun di seluruh sudut panggung, persis seperti tata dedaunan yang ada di meja ticketing. Sangat mistis dan masih kotor. Sangat berhasil membuat saya terngaga dan merinding dari awal detik pementasan. Kuli-kuli proyek masuk, diiringi dengan musik yang dimainkan secara langsung, bahkan mereka pun terlihat seperti bernyanyi sambil memacul tanah.

Dari scene pertama itu lah, sisa malam itu menjadi blur karena saya kelewat menikmati malam. 

Bintang pementasan dhemit adalah, seperti yang bisa ditebak, para dhemit. Saya ingat sekali ketika tiga dhemit, Wilwo, Egrang, dan Kunti pertama kali menampakkan diri. Karakter mereka masing-masing sangat khas, dan yang paling saya suka, semua dhemit bisa bercanda. Ketiga dhemit itu pun disusul oleh Genderuwo, kemudian mereka berempat mendiskusikan bagaimana caranya mempertahankan rumah mereka yang terancam digusur oleh manusia.

Mereka pun memanggil Jin Pohon Preh ketika mereka bingung membawa arah diskusi. Ritual pemanggilan Jin Pohon Preh lah yang membuat saya merinding gak karuan, dan scene spesifik itu patut dijadikan favorit semua pasang mata yang menyaksikan. Keempat dhemit duduk mengelilingi pohon, menari dan menyanyikan mantra mantra pemanggil Jin Pohon Preh. Musik dan pengcahayaan pada scene ini membuat saya bergidik, namun tidak ingin melepaskan mata dari panggung. Saya terlampau kagum oleh tarian pemanggil jin, sehingga tiba-tiba saja sesosok makhluk hijau dan penuh lumut pun muncul dari dalam pohon. 

Betapa senangnya saya, penggemar film horror, dapat menyaksikan penampilan teater yang membawa suasana horror. Pentas Tunggal Teater Lingkar tahun ini sukses membawa kesan mistis dan komedi dari awal sampai akhir pementasan. Selain menghibur, pentas ini juga mengingatkan saya terhadap budaya lokal yang masih sangat kental dengan kepercayaan mistis. 

Seselesainya penampilan, penonton dipersilakan keluar venue atau ke depan panggung untuk berfoto dengan para aktor. Bahagianya saya semakin meluap luap ketika saya dapat berkumpul dengan teman-teman saya, dari aktor karakter utama sampai panitia, untuk mengucapkan selamat.

Terima kasih, teman-teman Teater Lingkar. Pentas Tunggal tahun ini gokil. Terus berkarya dan terus meramaikan malam Minggu kami semua di Malang.

Penulis: Syadza Nirwasita

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.